Close Menu
    What's Hot

    Nomor HP Bisa Jadi Kunci Dapat Pinjaman

    31-10-2026 - 15.06

    Skandal Suap Mantan Menteri dan Brankas Misterius

    31-10-2026 - 15.02

    Nasib Pasar Saham RI di Ujung Tanduk

    31-10-2026 - 13.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Nomor HP Bisa Jadi Kunci Dapat Pinjaman
    • Skandal Suap Mantan Menteri dan Brankas Misterius
    • Nasib Pasar Saham RI di Ujung Tanduk
    • Misteri Tuan Tanah Matraman Penguasa Lahan Raksasa
    • Dilema Emas Fisik atau Digital
    • Peluang Bisnis Minimarket Alfamart 2026
    • Pasar Obligasi RI Terancam Badai Global
    • Aksi Heroik Buang Dolar Demi Rupiah
    Sabtu, 31 Oktober 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Aksi Heroik Buang Dolar Demi Rupiah
    Pangan

    Aksi Heroik Buang Dolar Demi Rupiah

    31-10-2026 - 08.023 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    agroplus.co.id – Sejarah ekonomi Indonesia pernah mencatat sebuah periode yang sangat mencekam, yakni krisis moneter 1997-1998. Kala itu, stabilitas ekonomi nasional runtuh seketika saat nilai tukar Rupiah terjun bebas. Dari posisi yang semula stabil di angka Rp2.000 per Dolar AS, mata uang Garuda tersebut merosot tajam hingga menyentuh angka Rp10.000, bahkan sempat mencapai titik nadir di level Rp16.000.

    Di tengah kepanikan massal dan bayang-bayang kebangkrutan negara, muncul sebuah gerakan moral yang mencoba membangkitkan kembali kepercayaan pasar. Salah satu inisiator yang paling menyita perhatian publik adalah Siti Hardijanti Rukmana, atau yang lebih dikenal sebagai Mbak Tutut, putri sulung Presiden Soeharto.

    Aksi Heroik Buang Dolar Demi Rupiah
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Melalui Gerakan Cinta Rupiah (Getar) yang diluncurkan pada Januari 1998, Mbak Tutut mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berhenti bergantung pada mata uang asing. Misi utamanya sangat jelas: mendorong warga menukarkan simpanan Dolar AS mereka ke dalam Rupiah guna memperkuat cadangan devisa Bank Indonesia (BI). Sebagai bentuk keteladanan, ia bahkan langsung menyetorkan US$50 ribu dari kantong pribadinya ke negara.

    Aksi ini memicu efek domino yang menarik. Berbagai tokoh penting mulai turun gunung untuk menunjukkan solidaritas mereka. Tercatat dalam arsip sejarah, rombongan anggota MPR mendatangi Gedung Bank Indonesia untuk melakukan konversi mata uang. Salah satu sosok yang ikut serta adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang saat itu masih menjabat sebagai anggota MPR dari Fraksi ABRI, dengan menukarkan US$1.300.

    Tak hanya politisi, para pengambil kebijakan ekonomi seperti Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad dan Gubernur BI Soedradjad Djiwandono juga ikut melepas kepemilikan Dolar mereka. Bahkan, para konglomerat besar seperti Aburizal Bakrie dan The Ning King turut menyumbangkan ratusan ribu Dolar mereka untuk menyelamatkan Rupiah. Tak ketinggalan, pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono bahkan merelakan 1 kilogram emas pribadinya untuk diserahkan kepada pemerintah.

    Namun, di balik semangat patriotisme tersebut, gerakan ini tidak lepas dari kritik pedas para ahli ekonomi. Banyak pengamat internasional dan ekonom lokal menilai bahwa Gerakan Cinta Rupiah hanyalah sebuah aksi simbolis atau sekadar "gimmick" yang tidak mampu menyentuh akar permasalahan ekonomi yang sebenarnya.

    Secara matematis, total dana yang terkumpul dari gerakan ini diperkirakan hanya mencapai US$5 juta. Angka tersebut dianggap sangat kecil jika dibandingkan dengan besarnya utang luar negeri Indonesia dan kebutuhan devisa negara yang mencapai puluhan miliar Dolar AS pada masa itu. Kritikus menyebut aksi ini ibarat setetes air di tengah padang pasir yang luas.

    Prediksi para kritikus terbukti benar. Kekuatan Dolar AS tetap tak terbendung, dan Rupiah terus merosot hingga memicu kebangkrutan perusahaan secara massal serta lonjakan harga kebutuhan pokok. Krisis ekonomi yang tak kunjung usai ini akhirnya bermutasi menjadi krisis sosial dan politik yang hebat, yang puncaknya berujung pada jatuhnya rezim Orde Baru pada Mei 1998.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Nomor HP Bisa Jadi Kunci Dapat Pinjaman

    31-10-2026 - 15.06

    Skandal Suap Mantan Menteri dan Brankas Misterius

    31-10-2026 - 15.02

    Nasib Pasar Saham RI di Ujung Tanduk

    31-10-2026 - 13.06

    Misteri Tuan Tanah Matraman Penguasa Lahan Raksasa

    31-10-2026 - 13.02

    Dilema Emas Fisik atau Digital

    31-10-2026 - 10.06

    Peluang Bisnis Minimarket Alfamart 2026

    31-10-2026 - 10.02
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Nomor HP Bisa Jadi Kunci Dapat Pinjaman

    agroplus.co.id – Dunia keuangan digital kini tengah mengalami transformasi besar yang mengubah cara masyarakat mengakses…

    Skandal Suap Mantan Menteri dan Brankas Misterius

    31-10-2026 - 15.02

    Nasib Pasar Saham RI di Ujung Tanduk

    31-10-2026 - 13.06

    Misteri Tuan Tanah Matraman Penguasa Lahan Raksasa

    31-10-2026 - 13.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.