Agroplus – Isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan kembali menjadi sorotan, kali ini terkait potensi dampaknya terhadap dinamika perdagangan di Bursa Karbon Indonesia. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, secara langsung mengemukakan pandangannya mengenai bagaimana insiden kebakaran ini dapat memengaruhi ketersediaan unit karbon di masa mendatang.
Menurut Jeffrey, sistem perdagangan karbon di pasar modal mengadopsi mekanisme "vintage". Ini berarti unit karbon yang diperdagangkan adalah hasil dari penyerapan atau pengurangan emisi yang telah terjadi pada periode waktu tertentu. Oleh karena itu, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini, meskipun dampaknya belum sepenuhnya terasa, berpotensi besar mengurangi ketersediaan unit karbon yang dapat diperdagangkan di masa depan. "Unit karbon yang diperdagangkan di bursa, atau yang terdaftar di SRUK (Sistem Registri Unit Karbon), adalah vintage, artinya unit yang sudah dihasilkan sebelumnya. Insiden kebakaran saat ini tentu akan berdampak pada ketersediaan unit karbon ke depan," terang Jeffrey dalam sebuah kesempatan di Gedung BEI Jakarta.

Meskipun demikian, Jeffrey menegaskan bahwa hingga saat ini, dampak signifikan dari karhutla terhadap aktivitas perdagangan di bursa karbon belum terlihat secara langsung. Ia menambahkan bahwa proses pengukuran dan evaluasi dampak dari insiden tersebut akan menjadi tanggung jawab lembaga-lembaga yang memiliki kewenangan dan keahlian di bidangnya.
Jeffrey juga menjelaskan bahwa sistem perdagangan karbon di BEI telah terintegrasi erat dengan pemerintah melalui Sistem Registri Unit Karbon (SRUK). Dalam ekosistem ini, BEI memegang peran krusial sebagai fasilitator yang melayani perdagangan unit karbon di pasar sekunder, memastikan transaksi berjalan transparan dan efisien.
Data terkini menunjukkan bahwa volume perdagangan karbon di bursa telah mencapai angka impresif 1,9 juta ton CO2e, dengan total nilai transaksi menembus Rp93,8 miliar. Hingga saat ini, tercatat ada 10 proyek yang unit karbonnya diperdagangkan di bursa, melibatkan 159 entitas pengguna jasa yang aktif.
Fenomena karhutla di Kalimantan ini menjadi pengingat penting akan urgensi menjaga kelestarian hutan sebagai paru-paru dunia dan juga sebagai aset strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui pasar karbon. Keberlanjutan pasokan unit karbon sangat bergantung pada komitmen kita bersama dalam menjaga ekosistem hutan agar tetap lestari.
