agroplus.co.id – Masa depan ekonomi Indonesia diprediksi akan semakin bersinar terang. Asian Development Bank (ADB) menyatakan optimisme tinggi bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap. Hal ini menjadi kunci utama guna mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045.
Direktur ADB untuk Indonesia, Bobur Alimov, menegaskan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi yang stabil akan membawa Indonesia terus naik kelas dalam klasifikasi negara berkembang (developing member countries/DMC). Menurutnya, status kelayakan pendanaan Indonesia tidak akan mengalami penurunan, melainkan akan terus meningkat seiring dengan kemajuan pembangunan.

"Tidak ada penurunan status dalam waktu dekat, yang ada hanya akan naik, hanya akan naik," tegas Bobur saat ditemui di kawasan IPAL Losri, Makassar, Rabu (21/10/2026).
Bobur mengungkapkan bahwa optimisme ini didasarkan pada transformasi nyata yang terjadi di Indonesia selama dua dekade terakhir. Ia membandingkan kondisi Indonesia saat ia pertama kali bertugas 20 tahun lalu dengan kondisi saat ini. Ia menyoroti kemajuan infrastruktur dan fasilitas publik, seperti kehadiran MRT dan peningkatan kualitas layanan kesehatan di berbagai wilayah.
"Anda bisa melihat tanda-tanda kemajuan itu di mana-mana. Bahkan, negara-negara lain di kawasan ini mulai tertarik untuk mempelajari kisah sukses Indonesia. Ini adalah sinyal positif yang sangat besar," tambahnya.
Meski demikian, ADB memberikan catatan penting terkait pengelolaan fiskal, khususnya mengenai rasio pajak (tax ratio). Bobur menyoroti bahwa penerimaan pajak Indonesia cenderung stagnan di angka 9% selama 20 tahun terakhir. Hal ini kontras dengan negara tetangga seperti Kamboja yang berhasil meningkatkan rasio pajaknya secara signifikan.
Menurut Bobur, tantangan utama pemerintah bukan terletak pada pengejaran pajak dari sektor informal kecil, melainkan pada optimalisasi kepatuhan pajak dari perusahaan-perusahaan besar. Peningkatan penerimaan pajak ini sangat krusial karena akan menjadi stimulus fiskal yang kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.
Untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi, Indonesia ditargetkan mampu mencatat pertumbuhan ekonomi di kisaran 8% hingga 9%, serupa dengan keberhasilan Korea Selatan. Strategi yang ditempuh pemerintah mencakup pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan serta penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sejak dini, termasuk melalui program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mencegah stunting.
Selain fokus pada SDM, Indonesia juga tengah diarahkan untuk memperkuat sektor manufaktur bernilai tambah tinggi. Saat ini, kontribusi manufaktur masih berada di angka 9%, sementara target idealnya adalah mencapai 20%. Salah satu langkah strategis yang sedang digarap adalah pengembangan industri semikonduktor atau produksi chip di dalam negeri.
"Investasi pada anak-anak dan masa depan adalah kunci. Kita tidak bisa menjadi negara berpenghasilan tinggi jika generasi mendatang mengalami masalah gizi atau kurang pendidikan," pungkas Bobur.
