Agroplus – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman angkat bicara mengenai isu penutupan sejumlah penggilingan padi kecil yang belakangan ramai diperbincangkan. Menurutnya, fenomena ini bukanlah hal baru dan lebih disebabkan oleh ketidakseimbangan kapasitas penggilingan dengan produksi padi nasional.
Mentan Amran menjelaskan bahwa saat ini terdapat tiga klaster penggilingan padi, yaitu kecil (161.000 unit), menengah (7.300 unit), dan besar (1.065 unit). Ironisnya, kapasitas giling penggilingan kecil saja mencapai 116 juta ton per tahun, jauh melebihi produksi padi nasional yang hanya sekitar 65 juta ton. "Kapasitasnya penggilingan yang kecil adalah 116 juta ton tapi produksi padi Indonesia hanya 65 juta ton. Menurut Anda, kalau kapasitas 116 juta, kemudian produksi padi Indonesia hanya 65 juta, idle nggak?" ujarnya usai konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN 2026, Jumat (15/8).

Lebih lanjut, Mentan Amran menegaskan bahwa isu penutupan penggilingan kecil bukanlah fenomena yang baru terjadi. Hal ini sudah berlangsung lama akibat struktur pasar dan kapasitas yang tidak seimbang. Faktor musiman juga turut berperan, di mana produksi padi didominasi pada semester pertama (Januari-Juni), sehingga pasokan bahan baku berkurang pada semester kedua.
Ketimpangan harga antara penggilingan besar dan kecil juga menjadi masalah. Penggilingan besar mampu membeli gabah dengan harga lebih tinggi, sehingga menekan ruang gerak penggilingan kecil. "Yang besar harusnya tidak masuk mengganggu yang kecil. Karena yang kecil, kalau dia beli Rp 6.500, yang besar beli Rp 6.700. Kalau yang kecil naik Rp 6.700, yang besar beli Rp 7.000. Artinya, yang kecil terganggu," tegasnya.
Namun, Mentan Amran melihat adanya dampak positif dari dinamika pasar belakangan ini. Penurunan penjualan beras premium di supermarket modern diikuti dengan peningkatan permintaan di pasar tradisional, memberikan kesempatan bagi penggilingan kecil untuk kembali mendapatkan pasokan. "Tapi lihat fenomena, setelah terjadi pengurangan premium di supermarket modern, terjadi peningkatan penjualan di pasar tradisional. Kemudian penggilingan kecil mendapatkan supply. Itu adalah berkah bagi penggilingan kecil dan pasar tradisional," tuturnya.
Mentan Amran menekankan pentingnya meluruskan pemahaman publik. Dengan stok beras yang hanya sekitar 23 juta ton tersisa dan kapasitas giling terpasang hingga 165 juta ton, wajar bila tidak semua penggilingan bisa beroperasi penuh. Kondisi ini membuat penggilingan kecil kerap kalah bersaing dalam harga. "Kalau berasnya saat ini tinggal 23 juta, gak banyak, kapasitas pabrik seluruhnya itu 165 juta, tentu kan tidak kebagian yang kecil. Kenapa yang kecil? Kalah bersaing dalam harga. Nah, ini mudah-mudahan akan terbentuk struktur pasar baru," ujarnya.
Selain faktor kapasitas dan distribusi, Amran juga menyoroti adanya praktik kecurangan yang ikut mengerek harga beras. Ia mengungkapkan bahwa ada pihak-pihak yang menaikkan harga secara tidak wajar, jauh di atas harga seharusnya. "Nah, setelah itu diperparah lagi dengan harga dan kualitas yang tidak benar. Itu mengangkat harga. Dan itu sudah berapa tersangka ditetapkan," ungkapnya.
Berdasarkan pemantauan terbaru, Mentan Amran menyebut harga beras sudah mulai mengalami penurunan di sejumlah daerah. Ia juga membantah anggapan bahwa tingginya harga beras saat ini disebabkan penyerapan besar oleh Bulog. Ia menekankan bahwa Bulog hanya menyerap sekitar 8 persen dari total beras yang beredar, sedangkan sisanya dikuasai oleh swasta.
Mentan Amran menegaskan pemerintah bersama kementerian terkait telah beberapa kali melakukan rapat koordinasi terkait kondisi ini. Ia optimistis kesepakatan bersama akan menghasilkan struktur pasar baru yang lebih sehat, seperti yang dilansir dari agroplus.co.id. Verdifjord