Agroplus – Eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina kembali mencapai puncaknya, dengan kedua belah pihak melancarkan serangan udara intensif yang menargetkan infrastruktur vital. Serangan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan parah, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi regional dan, secara tidak langsung, pasokan pangan global, mengingat pentingnya Ukraina sebagai lumbung gandum dunia. Tanda-tanda perdamaian semakin tersamarkan seiring dengan semakin memanasnya tensi di medan perang.
Dalam serangkaian serangan terbarunya, Rusia menyasar pabrik baja terbesar di Ukraina, ArcelorMittal Kryvyi Rih, yang terletak di kota kelahiran Presiden Volodymyr Zelensky. Laporan menyebutkan setidaknya dua orang tewas dan 14 lainnya terluka akibat serangan pada Minggu pagi itu. Pihak pengelola pabrik mengonfirmasi kerusakan pada fasilitas produksi utama, termasuk sektor pembangkit listrik dan tanur tinggi, yang menyebabkan penghentian sebagian proses produksi. Serangan ini juga memicu kebakaran di beberapa distrik ibu kota Kyiv, melukai setidaknya tiga orang, termasuk seorang anak, akibat serangan drone di berbagai wilayah.

Tak tinggal diam, militer Ukraina membalas dengan menyerang target strategis di wilayah Rusia. Salah satu yang menjadi sasaran adalah fasilitas produksi bahan bakar rudal di wilayah Rostov. Menurut militer Ukraina, perusahaan tersebut merupakan pemasok propelan roket padat untuk berbagai sistem peluncur roket dan persenjataan udara. Selain itu, serangan drone Ukraina juga menargetkan gudang milik Wildberries, peritel online terbesar Rusia, di wilayah Moskow, serta sebuah bus di dekat kota Belgorod yang menewaskan satu orang. Kyiv menuduh Wildberries terlibat dalam penanganan barang-barang militer, menjadikannya target dalam upaya melemahkan infrastruktur ekonomi Rusia yang dianggap menopang kampanye militer Moskow.
Dampak konflik ini bahkan merambah hingga ke negara tetangga. Rumania, yang berbatasan langsung dengan Ukraina, melaporkan insiden penembakan jatuh sebuah drone oleh jet tempur F-18 NATO di wilayah udaranya. Meskipun asal drone tidak disebutkan secara spesifik, juru bicara NATO menduga kuat drone tersebut berasal dari Rusia. Insiden ini terjadi tak lama setelah Rusia menghantam pelabuhan ekspor gandum terbesar Ukraina di Sungai Danube, yang berdekatan dengan perbatasan Rumania, pekan lalu. Serangan terhadap fasilitas pelabuhan gandum ini menyoroti kerentanan rantai pasok pangan global di tengah gejolak perang, mengingat peran krusial wilayah tersebut dalam distribusi komoditas pertanian.
Peningkatan intensitas serangan yang menyasar infrastruktur industri, energi, logistik, hingga militer ini mengindikasikan bahwa prospek perdamaian semakin jauh. Konflik yang terus memanas ini tidak hanya merenggut nyawa dan menghancurkan bangunan, tetapi juga menciptakan ketidakpastian ekonomi yang luas, termasuk ancaman terhadap ketersediaan komoditas penting seperti baja dan, yang tak kalah krusial bagi dunia, gandum. Situasi ini menuntut perhatian serius dari komunitas internasional terhadap dampak jangka panjangnya pada stabilitas global dan ketahanan pangan.
