Agroplus – Bursa Efek Indonesia kembali kedatangan pemain baru yang menjanjikan. PT Prodia Diagnostic Line (PRDL), entitas anak dari raksasa diagnostik Prodia, secara resmi memulai masa penawaran umum perdana (IPO) mereka pada Rabu, 1 Juli 2026. Dengan harga penawaran yang dipatok di angka Rp120 per saham, PRDL siap menarik perhatian investor di tengah dinamika pasar modal.
Angka Rp120 ini sendiri merupakan batas atas dari rentang harga penawaran yang sebelumnya diproyeksikan, yakni antara Rp100 hingga Rp120 per saham, menunjukkan kepercayaan perusahaan terhadap valuasi yang diusung. Dalam aksi korporasi ini, PRDL melepas sebanyak-banyaknya 522,9 juta saham baru ke publik, setara dengan 30% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO. Dari pelepasan saham ini, perusahaan menargetkan perolehan dana segar mencapai Rp62,75 miliar.

Lantas, ke mana dana sebesar itu akan dialokasikan? Sekitar Rp35,67 miliar dari total dana yang terkumpul direncanakan untuk melunasi pokok pinjaman kepada dua bank besar, yaitu PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) dan PT Bank Pan Indonesia Tbk. (Panin Bank). Langkah ini menunjukkan komitmen PRDL untuk memperkuat struktur keuangannya dan mengurangi beban utang, sebuah sinyal positif bagi calon investor yang mencari stabilitas.
Sebagai informasi, PRDL bukanlah pemain baru di sektor kesehatan. Perusahaan ini berfokus pada pembuatan dan pengolahan alat kesehatan yang krusial untuk diagnosis medis atau yang dikenal sebagai in vitro diagnostics (IVD). Dengan fasilitas produksi modern yang berlokasi strategis di Kawasan Industri Jababeka III, Cikarang, Jawa Barat, PRDL berperan penting dalam mendukung ekosistem kesehatan di Indonesia, khususnya dalam penyediaan alat diagnostik yang akurat dan terjangkau.
Melihat rekam jejak keuangan, PRDL menunjukkan dinamika yang menarik. Laba bersih perusahaan sempat mencapai puncaknya sekitar Rp35,8 miliar pada tahun 2023. Namun, pada tahun 2024, terjadi penurunan signifikan hingga menyentuh angka Rp10 miliar. Kabar baiknya, kinerja keuangan mulai menunjukkan pemulihan pada tahun 2025, dengan laba bersih kembali naik menjadi sekitar Rp17 miliar. Fluktuasi ini tentu menjadi perhatian bagi calon investor yang ingin memahami potensi pertumbuhan jangka panjang PRDL dan strategi perusahaan dalam menghadapi tantangan pasar.
Dengan dimulainya masa penawaran umum ini, para investor kini menantikan tanggal pencatatan saham PRDL di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dijadwalkan pada 9 Juli 2026. Akankah debut PRDL ini menjadi angin segar bagi pasar modal dan sektor kesehatan, serta memberikan keuntungan optimal bagi para pemegang saham barunya? Kita tunggu saja perkembangannya.
