Agroplus – Industri pertambangan timah nasional dihadapkan pada tantangan serius. PT Timah Tbk (TINS), raksasa pertambangan timah Indonesia, mengambil langkah berani dengan merencanakan eksplorasi dan penambangan bijih timah di kedalaman laut hingga 80 meter. Keputusan strategis ini muncul sebagai respons terhadap semakin menipisnya deposit timah di area aluvial dangkal yang selama ini menjadi tulang punggung produksi.
Harry Budi Sidharta, Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha TINS, menjelaskan bahwa perseroan sedang mematangkan inovasi teknologi untuk mendukung operasi tambang laut yang lebih ekstrem ini. "Cadangan aluvial kita semakin menipis. Fokus eksplorasi kini beralih ke aluvial dalam dan primer," ujarnya dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 di Jakarta, Jumat (12/6/2026). Ia menambahkan, armada kapal baru yang dirancang khusus akan menjadi kunci untuk mencapai lapisan deposit yang lebih jauh di bawah dasar laut, melampaui kedalaman rata-rata 50 meter yang saat ini dioperasikan. Targetnya adalah menembus 80 meter, mencari area yang lebih prospektif.

Tak hanya di laut, PT Timah juga mulai mengalihkan perhatian ke pengembangan tambang primer di daratan. Berbeda dengan tambang aluvial yang relatif mudah diakses, tambang primer menuntut teknologi pengolahan pemisahan mineral yang jauh lebih kompleks. Bijih timah yang terperangkap dalam batuan keras memerlukan proses penghancuran hingga sangat halus sebelum mineralnya dapat dipisahkan secara efektif.
Urgensi langkah ini diperkuat oleh kondisi cadangan timah yang ada. Ilhamsyah Mahendra, Direktur Produksi dan Komersial TINS, dalam Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026 pada Kamis (4/6/2026), mengungkapkan bahwa perusahaan memiliki sekitar 800.000 ton sumber daya dan 300.000 ton cadangan timah. "Angka-angka ini hanya cukup untuk 10-15 tahun ke depan. Kami membutuhkan deposit yang jauh lebih besar, idealnya untuk lebih dari seratus tahun," tegasnya, menyoroti pentingnya penambahan cadangan baru untuk keberlanjutan bisnis.
Untuk mempercepat penemuan titik cadangan baru, emiten anggota holding industri pertambangan MIND ID ini mengintensifkan kegiatan eksplorasi secara agresif. Pemanfaatan teknologi pemetaan digital (GIS) dan pemantauan udara menggunakan drone menjadi andalan untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan proses eksplorasi di wilayah konsesi perusahaan.
Selain fokus domestik, PT Timah juga mulai melirik peluang ekspansi global. Strategi ini bertujuan untuk mencari aset pertambangan yang strategis di luar negeri, mengurangi ketergantungan pada sumber daya domestik semata, sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis dunia. "Kami sangat terbuka untuk kemitraan dan kolaborasi dengan perusahaan timah global," pungkas Ilhamsyah, menegaskan ambisi perusahaan untuk mendominasi pasar global dalam jangka panjang.
