agroplus.co.id – Dunia tengah menghadapi ancaman serius terkait ketersediaan lapangan kerja bagi generasi muda. Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, memberikan peringatan keras mengenai potensi terjadinya kesenjangan pekerjaan yang masif dalam satu hingga satu setengah dekade mendatang. Proyeksi menunjukkan bahwa dunia akan mengalami kekurangan hingga 800 juta lapangan kerja baru.
Berdasarkan data yang dipaparkan, sekitar 1,2 miliar anak muda diperkirakan akan memasuki pasar tenaga kerja global dalam kurun waktu 10 hingga 15 tahun ke depan. Namun, ironisnya, jumlah lapangan kerja yang tersedia diprediksi hanya mampu menyerap sekitar 400 juta orang. Hal ini menciptakan jurang pemisah yang sangat lebar antara jumlah tenaga kerja yang tersedia dengan kesempatan kerja yang ada.

"Generasi inilah yang akan membentuk abad mendatang. Pilihan yang kita buat hari ini akan turut menentukan bagaimana bentuk masa depan tersebut," tegas Banga dalam pidatonya pada pertemuan tahunan Bank Dunia, sebagaimana dikutip pada Senin (26/10/2026).
Tantangan Ganda Pemerintah Dunia
Banga menjelaskan bahwa upaya penciptaan lapangan kerja dalam skala besar kini berbenturan dengan berbagai kendala ekonomi global yang kompleks. Negara-negara di dunia saat ini tengah berjuang menghadapi beban utang yang semakin membengkak, yang secara langsung mempersempit ruang fiskal pemerintah.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya biaya kebutuhan pokok, mulai dari energi hingga pupuk, yang menekan kemampuan anggaran negara. Akibatnya, pemerintah menghadapi dilema besar: di satu sisi harus meningkatkan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain, kapasitas pembiayaan publik sangat terbatas akibat tekanan fiskal yang hebat.
Untuk mengatasi hal ini, Banga menekankan pentingnya sinergi antara pendanaan publik, investasi swasta, sektor filantropi, dan pemanfaatan teknologi. Meskipun mobilisasi modal swasta melalui Bank Dunia telah meningkat pesat—dari US$35 miliar pada 2022 menjadi US$112 miliar pada tahun fiskal terakhir—tantangan besar masih membayangi negara-negara berpendapatan rendah. Di wilayah tersebut, menarik modal komersial masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat sulit.
Strategi Tiga Pilar Bank Dunia
Menghadapi ancaman krisis lapangan kerja ini, Bank Dunia telah merancang strategi komprehensif yang bertumpu pada tiga pilar utama.
Pertama, penguatan infrastruktur fisik dan kualitas sumber daya manusia. Banga menyebutkan bahwa ketersediaan listrik, air, transportasi, serta konektivitas digital yang mumpuni adalah fondasi utama bagi perusahaan untuk dapat beroperasi dan memperluas produksi.
Kedua, penciptaan kepastian regulasi dan kebijakan. Dunia usaha membutuhkan institusi yang kuat, tata kelola yang transparan, serta aturan yang dapat diprediksi. Penyederhanaan perizinan dan kepastian hukum terkait pertanahan menjadi poin krusial dalam menciptakan iklim investasi yang sehat.
Ketiga, peningkatan skala investasi swasta. Bank Dunia terus berupaya memitigasi risiko yang selama ini menghambat investor, seperti risiko fluktuasi mata uang dan keterbatasan akses pembiayaan. Melalui berbagai instrumen seperti penjaminan dan pembiayaan dalam mata uang lokal, diharapkan arus modal dapat mengalir lebih lancar ke sektor-sektor produktif yang mampu menyerap tenaga kerja secara masif.
