agroplus.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja melakukan langkah besar dalam struktur perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam kebijakan terbaru yang berlaku pada perdagangan Senin (2/11/2026), otoritas bursa resmi mengeluarkan sejumlah saham yang teridentifikasi memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut.
Keputusan ini menjadi sorotan tajam para pelaku pasar karena jumlah emiten yang terdampak cukup signifikan. Sebanyak 81 saham resmi dicoret dari perhitungan IHSG. Meski jumlah emitennya banyak, dampak terhadap kapitalisasi pasar cukup terasa, di mana total nilai pasar dari saham-saham yang dikeluarkan tersebut mencapai sekitar 30% dari keseluruhan kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia. Selain itu, bobot dari 81 saham tersebut menyumbang sekitar 18% terhadap pergerakan IHSG.

Menanggapi dinamika ini, Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memberikan penjelasan untuk menenangkan pasar. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini dirancang agar tidak memicu volatilitas ekstrem, baik berupa penurunan drastis maupun lonjakan harga yang tidak wajar pada indeks. Langkah ini merupakan bagian dari upaya BEI untuk menjaga kualitas indeks, serupa dengan kebijakan sebelumnya yang telah mengecualikan saham-saham HSC dari indeks bergengsi lainnya seperti IDX30, LQ45, dan IDX80.
Secara teknis, bobot dari saham-saham yang dikeluarkan tersebut tidak akan hilang begitu saja. Menurut Jeffrey, bobot tersebut akan didistribusikan kembali kepada saham-saham lain yang masih menjadi konstituen dalam IHSG. Hal ini dilakukan agar keseimbangan indeks tetap terjaga meskipun terjadi perubahan komposisi yang cukup besar.
Pasca evaluasi ini, terjadi pergeseran dominasi di dalam IHSG. Sejumlah emiten besar, terutama dari sektor perbankan, kini memiliki bobot yang semakin jumbo. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) masih menjadi pemain utama dengan bobot masing-masing sebesar 9% dan 7,93%. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mengalami kenaikan bobot yang cukup signifikan menjadi 7,12% dari sebelumnya hanya 5,70%.
Selain sektor perbankan, sektor telekomunikasi dan industri juga mengalami penguatan bobot. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) kini memegang bobot 4,68%, naik dari sebelumnya 3,76%. PT Astra International Tbk. (ASII) juga mencatat kenaikan menjadi 4,15%.
Berikut adalah daftar 10 emiten dengan bobot terbesar di IHSG pasca pengecualian saham HSC:
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) – 9%
- PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) – 7,93%
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) – 7,12%
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) – 4,68%
- PT Astra International Tbk. (ASII) – 4,15%
- PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) – 3,50%
- PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) – 3,24%
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) – 2,61%
- PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) – 1,95%
- PT Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA) – 1,86%
