Modal HP Aktif 10 Tahun, Cairkan Pinjaman Jutaan!
Agroplus – Inovasi di sektor keuangan digital, khususnya pinjaman daring (pindar), kini membuka cakrawala baru bagi masyarakat, termasuk para pelaku usaha di sektor pertanian yang kerap kesulitan mengakses pembiayaan konvensional. Bukan lagi sekadar skor kredit, kini nomor ponsel yang aktif selama satu dekade bisa menjadi kunci utama untuk mendapatkan pinjaman. Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah, menjelaskan bahwa bahkan perusahaan pindar pun memiliki mekanisme penilaian risiko yang unik dan inklusif.

Berbeda dengan lembaga keuangan tradisional yang sangat bergantung pada riwayat kredit, data tabungan, atau slip gaji, platform pindar justru melihat potensi dari jejak digital. "Hanya dengan melihat satu nomor HP yang sudah aktif selama 10 tahun, kami sudah bisa mendapatkan skor minimum. Ini sangat sederhana, tidak perlu lagi memeriksa tabungan atau gaji," terang Kuseryansyah dalam sebuah kesempatan di Hotel Aryaduta Jakarta, Minggu (13/9/2026). Ia menambahkan, nomor yang telah aktif selama satu dekade menunjukkan stabilitas dan keberadaan seseorang yang tidak dikejar-kejar penagih utang. Sebaliknya, nomor yang baru aktif beberapa hari tentu menimbulkan tanda tanya besar terkait kredibilitas peminjam.
Indonesia, dengan populasi yang besar, menjadi pasar yang sangat strategis bagi perkembangan pindar. Filosofi di balik ini sangat kuat: akses terhadap pembiayaan seharusnya bukan hak eksklusif kelas menengah ke atas. "Masyarakat lapisan bawah, termasuk para petani dan pelaku UMKM di pedesaan, juga berhak mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pinjaman guna mengembangkan usahanya," tegas Kuseryansyah, menyoroti pentingnya inklusi keuangan yang merata. Pendekatan ini memungkinkan lebih banyak warga, yang mungkin tidak memiliki akses ke bank tradisional, untuk mendapatkan modal.
Data menunjukkan peran pindar yang semakin vital. Hingga November 2025, total pembiayaan yang disalurkan oleh pindar mencapai Rp94,85 triliun, dengan pertumbuhan tahunan impresif sebesar 25,45%. Angka ini, meskipun signifikan, masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan total kebutuhan pembiayaan nasional yang diperkirakan mencapai Rp2.650 triliun. Lembaga keuangan konvensional baru mampu memenuhi sekitar Rp1.000 triliun, menyisakan celah pembiayaan (credit gap) sebesar Rp1.650 triliun hingga akhir 2025. Bahkan, riset dari EY MSME Market Study and Policy Advocacy memproyeksikan kebutuhan pembiayaan UMKM saja bisa mencapai Rp4.300 triliun pada tahun 2026, dengan potensi celah kredit sebesar Rp2.400 triliun. Di sinilah pindar, dengan pendekatan inovatifnya, menjadi harapan besar untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Dengan demikian, penggunaan data alternatif seperti rekam jejak nomor ponsel aktif selama satu dekade membuka pintu pembiayaan yang lebih luas, khususnya bagi sektor-sektor yang selama ini kurang terjangkau seperti pertanian dan UMKM. Ini bukan hanya tentang pinjaman, melainkan tentang memberdayakan lebih banyak individu dan usaha kecil untuk tumbuh, berkontribusi pada perekonomian nasional, dan mewujudkan inklusi keuangan yang sesungguhnya. Informasi lebih lanjut mengenai inovasi pembiayaan ini dapat Anda temukan di agroplus.co.id.
