Close Menu
    What's Hot

    Rupiah Terpuruk Namun Ada Harapan Baru

    07-11-2026 - 05.06

    Gelombang Gugatan Asuransi di Jakarta Selatan

    07-11-2026 - 05.02

    Saham MKNT Dikuasai Segelintir Pihak

    07-11-2026 - 02.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Rupiah Terpuruk Namun Ada Harapan Baru
    • Gelombang Gugatan Asuransi di Jakarta Selatan
    • Saham MKNT Dikuasai Segelintir Pihak
    • Waspada Rupiah Terancam Defisit Melebar
    • Strategi Baru Vantage Markets Masuk Indonesia
    • Gadai Saham Haji Isam ke Mandiri Aman
    • Laba Bank Mandiri Tembus Rp46,5 Triliun
    • Waspada Transaksi Saham Tidak Wajar
    Sabtu, 7 November 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Waspada Rupiah Terancam Defisit Melebar
    Pangan

    Waspada Rupiah Terancam Defisit Melebar

    07-11-2026 - 02.023 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    agroplus.co.id – Kondisi ekonomi Indonesia kini tengah menghadapi tantangan serius terkait stabilitas nilai tukar rupiah. Ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan semakin meningkat, yang berujung pada risiko pelebaran defisit transaksi berjalan dalam beberapa tahun ke depan. Fenomena ini menjadi sinyal waspada bagi para pelaku pasar dan pengambil kebijakan di tanah air.

    Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memberikan proyeksi yang cukup mengkhawatirkan mengenai neraca transaksi berjalan Indonesia. Ia memperkirakan bahwa defisit tersebut akan menyentuh angka 1,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2026. Tidak berhenti di situ, angka defisit ini diprediksi akan semakin dalam hingga mencapai 1,6 persen pada tahun 2027. Jika dibandingkan dengan tahun 2025 yang hanya mencatatkan defisit tipis sebesar 0,1 persen, lonjakan ini menunjukkan adanya pergeseran fundamental dalam struktur ekonomi nasional.

    Waspada Rupiah Terancam Defisit Melebar
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Menurut Irman, pelebaran defisit ini merupakan indikator kuat bahwa Indonesia masih sangat membutuhkan aliran pembiayaan dari luar negeri untuk menutupi kebutuhan dolar AS. Ketergantungan ini secara langsung dapat memberikan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar rupiah. Salah satu pemicu utamanya adalah membengkaknya biaya impor energi yang berpotensi merusak neraca perdagangan sektor minyak dan gas.

    Ketidakpastian geopolitik global menjadi faktor kunci di balik situasi ini. Irman menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia telah mengubah peta ekonomi global secara drastis. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memuncak di awal tahun telah memicu lonjakan harga minyak yang signifikan. Meski sempat mengalami koreksi, harga minyak dunia cenderung bertahan di level yang tinggi, yakni di atas US$100 per barel.

    Kondisi harga energi yang "lengket" di level tinggi ini tidak hanya mengancam neraca perdagangan, tetapi juga memicu risiko inflasi global yang kembali menguat. Dampaknya, bank sentral di berbagai negara, terutama Amerika Serikat, kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer).

    Situasi suku bunga tinggi di AS ini menciptakan dilema bagi negara berkembang seperti Indonesia. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, investor global cenderung menarik modal mereka dari pasar negara berkembang (emerging markets) dan memindahkannya ke aset-aset yang dianggap lebih aman di negara maju (advanced economies).

    Fenomena aliran modal keluar (capital outflow) ini akan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS secara masif, sementara pasokan valuta asing di dalam negeri justru berkurang. Akibatnya, rupiah akan terus berada di bawah tekanan hebat, sementara kebutuhan domestik untuk membayar impor dan aktivitas ekonomi yang memerlukan dolar tetap tinggi. Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat, kondisi ini dapat memperburuk stabilitas ekonomi nasional secara keseluruhan.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Rupiah Terpuruk Namun Ada Harapan Baru

    07-11-2026 - 05.06

    Gelombang Gugatan Asuransi di Jakarta Selatan

    07-11-2026 - 05.02

    Saham MKNT Dikuasai Segelintir Pihak

    07-11-2026 - 02.06

    Strategi Baru Vantage Markets Masuk Indonesia

    07-11-2026 - 00.06

    Gadai Saham Haji Isam ke Mandiri Aman

    07-11-2026 - 00.02

    Laba Bank Mandiri Tembus Rp46,5 Triliun

    06-11-2026 - 23.06
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Rupiah Terpuruk Namun Ada Harapan Baru

    agroplus.co.id – Kondisi ekonomi nasional tengah menghadapi ujian berat seiring dengan merosotnya nilai tukar rupiah…

    Gelombang Gugatan Asuransi di Jakarta Selatan

    07-11-2026 - 05.02

    Saham MKNT Dikuasai Segelintir Pihak

    07-11-2026 - 02.06

    Waspada Rupiah Terancam Defisit Melebar

    07-11-2026 - 02.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.