agroplus.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang sangat impresif dengan lonjakan hingga 3 persen pada perdagangan terbaru. Kenaikan tajam ini tidak lepas dari peran dominan sejumlah emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjadi motor penggerak utama pasar modal tanah air.
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, sektor perbankan pelat merah menjadi pahlawan di balik penguatan indeks tersebut. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) tercatat sebagai kontributor terbesar dengan menyumbang 14,95 poin atau setara 0,30% terhadap pergerakan indeks. Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada level Rp2.760 per lembar.

Tak ketinggalan, raksasa telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) menyusul sebagai penyumbang terbesar kedua dengan kontribusi sebesar 10,82 poin atau 0,21%, di mana harga sahamnya berada di angka Rp2.010. Kekuatan sektor perbankan BUMN semakin terlihat dengan masuknya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) ke dalam daftar sepuluh besar pendorong indeks. BMRI menyumbang 7,92 poin pada level Rp3.670, sementara BBNI memberikan kontribusi 4,91 poin di level Rp3.280.
Di tengah euforia pasar domestik, para investor kini tengah menanti rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 yang dijadwalkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Konsensus pasar memprediksi pertumbuhan ekonomi akan berada di angka 5,20% secara tahunan (yoy). Selain itu, perhatian juga tertuju pada rapat Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan memberikan gambaran mengenai kesehatan sektor keuangan dan kemungkinan adanya kebijakan baru untuk memperkuat pasar modal.
Sementara itu, dinamika global turut memberikan pengaruh signifikan terhadap sentimen pasar. Di Amerika Serikat, hasil pemilu paruh waktu menunjukkan kemenangan telak bagi Partai Demokrat yang berhasil merebut kendali Senat dan DPR. Hal ini memicu spekulasi bahwa ruang gerak politik Presiden Donald Trump akan semakin terbatas, terutama terkait kebijakan luar negeri.
Kondisi geopolitik ini berdampak langsung pada jatuhnya harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent merosot tajam 8,7% ke level US$94,62 per barel, sementara WTI turun 8,3% ke posisi US$88,12 per barel. Anjloknya harga minyak ini dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa melemahnya posisi politik Trump dapat mendorong terciptanya negosiasi damai antara AS dan Iran, yang pada akhirnya meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan sisi positif melalui penyusutan defisit perdagangan menjadi US$105 miliar serta penambahan tenaga kerja sektor swasta yang mencapai 86.000 posisi, melampaui ekspektasi pasar. Di kawasan Eropa, pelaku pasar juga bersiaga menanti rilis data inflasi produsen (PPI) Zona Euro yang diprediksi akan menjadi indikator penting bagi kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) ke depan.
