agroplus.co.id – PT Waskita Karya (Persero) Tbk menunjukkan sinyal positif dalam upaya memulihkan kondisi finansialnya. Perusahaan konstruksi plat merah ini berhasil mencatatkan lonjakan pendapatan yang sangat signifikan sepanjang periode Januari hingga September 2026. Berdasarkan data terbaru, pendapatan usaha atau revenue perusahaan menembus angka Rp8,13 triliun secara year on year (yoy).
Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025, angka tersebut menunjukkan pertumbuhan yang sangat tajam sebesar 53,73 persen. Pada tahun sebelumnya, pendapatan perusahaan tercatat hanya berada di angka Rp5,29 triliun. Lonjakan ini menjadi bukti nyata bahwa strategi perbaikan operasional yang dijalankan manajemen mulai membuahkan hasil yang manis.

Pendorong utama dari kenaikan pendapatan ini berasal dari sektor jasa konstruksi yang tumbuh pesat sebesar 71,5 persen. Nilai pendapatan dari sektor tersebut merangkak naik dari Rp3,76 triliun menjadi Rp6,45 triliun. Selain itu, penyerapan realisasi proyek, terutama yang bersumber dari proyek-proyek pemerintah senilai Rp3,9 triliun, turut menjadi motor penggerak utama dalam memperkuat arus kas perusahaan.
Corporate Secretary Waskita Karya, Steven Subiantoro, mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan cerminan dari perbaikan operasional yang solid. Hal ini terjadi di tengah langkah besar perusahaan yang tengah melakukan restrukturisasi keuangan dan operasional secara menyeluruh sejak tahun 2023.
"Demi memperkuat struktur keuangan, Waskita telah menandatangani Master Restructuring Agreement (MRA) pada tahun 2024 yang melibatkan 21 bank. Kami berkomitmen penuh untuk menjalankan implementasi perjanjian ini secara konsisten," ujar Steven dalam keterangan resminya.
Melalui skema restrukturisasi tersebut, Waskita kini memiliki kapasitas yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban keuangannya. Hal ini terlihat dari pembayaran beban keuangan yang tercatat sebesar Rp1,06 triliun, naik tipis dari sebelumnya Rp1,02 triliun. Namun, yang lebih mencolok adalah kemampuan perusahaan dalam melunasi pinjaman bank jangka panjang yang melonjak hingga 78,18 persen, dari sebelumnya Rp393,65 miliar menjadi Rp701,39 miliar.
Manajemen juga berhasil menekan beban keuangan hingga ke level Rp2,79 triliun. Upaya ini dilakukan secara bertahap agar beban utang perusahaan dapat terus ditekan seminimal mungkin. Sejak akhir 2023, Waskita telah berhasil memangkas total utangnya sebesar 20,8 persen, dari yang semula mencapai Rp84 triliun menjadi Rp66,5 triliun. Selain itu, kewajiban pajak yang tertunda (past due) juga telah diselesaikan sepenuhnya sebesar 100 persen.
Lebih lanjut, keberhasilan restrukturisasi Obligasi III Tahap IV Tahun 2024 yang disetujui pada September lalu diharapkan dapat membuka peluang bagi pencabutan suspensi saham WSKT di bursa. Ke depannya, Waskita akan kembali fokus pada bisnis inti sebagai kontraktor murni. Strategi baru yang diterapkan adalah mengutamakan proyek dengan skema pembayaran bulanan dan menghindari sistem turnkey guna menjaga stabilitas modal kerja. Perusahaan juga terus menjalin koordinasi erat dengan pemangku kepentingan, termasuk Danantara, untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.
