Close Menu
    What's Hot

    BRI Kucurkan Rp842,1 T: Petani & UMKM Makin Berdaya!

    14-09-2026 - 02.06

    Mewah di Atas Derita Rakyat: Kisah Tragis Sultan Langkat

    14-09-2026 - 02.02

    14-09-2026 - 00.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • BRI Kucurkan Rp842,1 T: Petani & UMKM Makin Berdaya!
    • Mewah di Atas Derita Rakyat: Kisah Tragis Sultan Langkat
    • Skor Kredit Anjlok? Jurus Ampuh Pulihkan Reputasi di SLIK OJK!
    • Buka Alfamart Sendiri: Modal Mulai 300 Juta, Balik Modal Cepat?
    Senin, 14 September 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Rahasia Eks Menteri Terbongkar: Jualan Beras di Glodok!
    Pangan

    Rahasia Eks Menteri Terbongkar: Jualan Beras di Glodok!

    13-09-2026 - 08.063 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    Agroplus – Sorotan publik terhadap perjalanan hidup para pejabat setelah purna tugas selalu menarik perhatian. Ada yang memilih menikmati kemewahan, namun tak sedikit pula yang harus beradaptasi dengan realitas baru. Di antara kisah-kisah tersebut, cerita tentang Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama RI, menonjol sebagai teladan kesederhanaan yang tak terduga. Bayangkan, seorang eks menteri yang memilih berjualan beras di Pasar Glodok, Jakarta, sebuah fakta yang bahkan sempat disembunyikan dari keluarganya.

    Saifuddin Zuhri, yang menjabat sebagai Menteri Agama RI ke-10 dari tahun 1962 hingga 1967, merupakan sosok yang tak asing dalam kancah politik nasional. Setelah mengemban amanah di kabinet, ia melanjutkan pengabdiannya sebagai anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama, bahkan terpilih kembali dalam Pemilu 1971. Namun, fase berikutnya dalam hidupnya justru membawa kejutan yang jauh dari gemerlap kekuasaan.

    Rahasia Eks Menteri Terbongkar: Jualan Beras di Glodok!
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Memasuki era 1980-an, setelah sepenuhnya mundur dari hiruk pikuk politik, kehidupan Saifuddin Zuhri mengambil arah yang sangat berbeda. Jauh dari citra kemewahan yang kerap melekat pada mantan pejabat, ia justru memilih jalan hidup sebagai pedagang beras. Menurut catatan dalam buku Sang Pendoa: Para Kiai Fenomenal Pengayom Kedamaian Umat (2023), setiap pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, usai menunaikan salat Dhuha, ia akan menyetir mobilnya sendiri, membawa karung-karung beras, menuju Pasar Glodok. Sebuah pemandangan yang kontras dengan masa lalunya.

    Profesi barunya ini, yang bergelut dengan komoditas pangan pokok, sempat ia rahasiakan dari keluarga. Istri dan anak-anaknya hanya mengetahui bahwa ia selalu membawa pulang rezeki, tanpa pernah menanyakan asal-usulnya. Namun, rahasia itu akhirnya terkuak secara tak sengaja. Salah satu putranya memergoki sang ayah sedang sibuk melayani pembeli di tengah keramaian Pasar Glodok. Sebenarnya, dunia perdagangan bukanlah hal baru bagi Saifuddin. Dalam otobiografinya, Berangkat dari Pesantren (1984), ia mengisahkan pernah menjalani hidup sebagai pedagang serabutan pada tahun 1942, menjual apa saja mulai dari pakaian bekas, perabotan, hingga rokok, demi menyambung hidup saat anak pertamanya lahir.

    Integritas dan kesederhanaan memang telah menjadi pilar dalam diri Saifuddin sejak ia menjabat sebagai menteri. Baginya, jabatan bukanlah alat untuk memperkaya diri atau mencari privilese, melainkan sebuah amanah suci yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab. Prinsip ini ia tunjukkan secara konkret dengan menolak fasilitas rumah dinas mewah yang seharusnya menjadi haknya. Meski berulang kali dibujuk, ia tetap teguh memilih tinggal di kediaman pribadinya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    "Jika aku serakah, bagaimana dengan yang lain? Sikapku tegas," demikian penegasannya yang legendaris. Komitmennya terhadap kemandirian juga terlihat dari keputusannya untuk mencicil rumah sendiri di Jalan Hang Tuah, Kebayoran Baru. Dan yang lebih mengagumkan, setelah rumah itu lunas, ia tak ragu menghibahkannya untuk kepentingan sosial Nahdlatul Ulama, tanpa pamrih.

    Saifuddin Zuhri mengakhiri pengabdiannya di dunia pada 25 Februari 1986, setelah berjuang melawan sakit. Meskipun sudah puluhan tahun berlalu sejak ia melepaskan jabatannya, kisah hidupnya yang penuh integritas dan kesederhanaan sejati tetap menjadi cermin dan teladan berharga bagi setiap insan yang mengemban amanah publik di negeri ini. Sebuah warisan nilai yang tak lekang oleh waktu, mengingatkan kita akan esensi kepemimpinan yang sesungguhnya.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    BRI Kucurkan Rp842,1 T: Petani & UMKM Makin Berdaya!

    14-09-2026 - 02.06

    Mewah di Atas Derita Rakyat: Kisah Tragis Sultan Langkat

    14-09-2026 - 02.02

    14-09-2026 - 00.06

    14-09-2026 - 00.02

    13-09-2026 - 23.06

    Skor Kredit Anjlok? Jurus Ampuh Pulihkan Reputasi di SLIK OJK!

    13-09-2026 - 23.02
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    BRI Kucurkan Rp842,1 T: Petani & UMKM Makin Berdaya!

    Agroplus – Kabar gembira datang dari sektor perbankan yang tak henti mendukung geliat ekonomi akar…

    Mewah di Atas Derita Rakyat: Kisah Tragis Sultan Langkat

    14-09-2026 - 02.02

    14-09-2026 - 00.06

    14-09-2026 - 00.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.