Agroplus – Kabar mengenai pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) selalu menjadi sorotan utama, tak terkecuali bagi para pelaku usaha di sektor pertanian yang sangat bergantung pada stabilitas ekonomi dan harga komoditas global. Sebuah proyeksi menarik datang dari Bank DBS Indonesia, yang memperkirakan bahwa pada akhir tahun ini, mata uang Garuda akan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS. Lantas, kapan dolar AS bisa kembali ke level Rp17.000 yang banyak diidamkan dan menjadi penanda kekuatan ekonomi?
Radhika Rao, Senior Economist DBS Bank, menjelaskan bahwa perkiraan tersebut bisa saja ditinjau ulang, sangat bergantung pada keputusan kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Namun, Rao meyakini bahwa secara arah pergerakan, rupiah cenderung akan berada di atas level Rp18.000. Ia menepis kekhawatiran akan terjadinya pelemahan tajam yang signifikan, sebab sebagian besar ketidakpastian, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi global maupun domestik, sudah tercermin dalam harga pasar saat ini. "Kita telah melihat sedikit penyesuaian terjadi," ujarnya dalam Media Briefing DBS Institutional Forum 2026 di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Untuk terjadinya pelemahan rupiah yang drastis, dibutuhkan setidaknya dua hingga tiga katalis negatif yang kuat. Saat ini, Rao mengidentifikasi satu-satunya potensi pemicu negatif yang signifikan berasal dari faktor global, yaitu arah kebijakan The Fed yang sangat berpengaruh terhadap pasar keuangan dunia.
Mengenai harapan kembalinya rupiah ke level Rp17.000 per dolar AS, Rao memberikan pandangan yang cukup realistis. Ia menegaskan bahwa hal tersebut sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar dolar AS itu sendiri. Mengingat dolar AS saat ini menguat terhadap hampir semua mata uang dunia, dibutuhkan "reaksi yang sangat, sangat tajam pada dolar itu sendiri untuk membawa dolar-rupiah menuju Rp17.000." Ini mengindikasikan bahwa tanpa pelemahan signifikan pada dolar AS secara global, harapan rupiah kembali ke Rp17.000 akan menjadi tantangan besar.
Sentimen risiko yang masih sangat tinggi juga menjadi penghalang bagi investor asing untuk berinvestasi. Rao mengungkapkan, saat ini investor cenderung menahan diri untuk berinvestasi ke mana pun. Perbandingan investasi pun tidak lagi sebatas antara negara-negara Asia atau negara berkembang, melainkan perbandingan antarnegara individual, negara berkembang, dan pasar global secara keseluruhan. Ia menyoroti perbedaan imbal hasil: jika imbal hasil bebas risiko AS berada di kisaran 4,5%-4,6%, maka selisih sekitar 2%-2,5% dengan imbal hasil aset Indonesia dipertanyakan apakah cukup untuk mengompensasi risiko investasi di Indonesia.
Di sisi lain, Rao memuji langkah-langkah yang telah diambil oleh Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan. Keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak 100 basis poin sepanjang tahun ini, ditambah dengan langkah-langkah non-suku bunga lainnya, dinilai sangat tepat. "Semua ini benar-benar berkontribusi pada stabilisasi pasar keuangan, pasar obligasi, jadi saya rasa resep tersebut sudah tepat," pungkasnya.
Jadi, bagi Anda yang berharap rupiah kembali perkasa di level Rp17.000, nampaknya jalan masih panjang dan sangat bergantung pada dinamika global, khususnya pergerakan dolar AS. Namun, dengan kebijakan moneter yang tepat, stabilitas pasar keuangan domestik tetap terjaga, memberikan fondasi yang kokoh di tengah ketidakpastian global yang terus bergejolak. Informasi lebih lanjut mengenai analisis ekonomi dan dampaknya terhadap sektor riil dapat Anda temukan di agroplus.co.id.
