Agroplus – Kabar mengejutkan datang dari pasar komoditas global pada Senin (13/7/2026) pagi waktu Indonesia. Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan taringnya, melonjak tajam setelah ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas di jantung Timur Tengah. Situasi ini sontak memicu kekhawatiran serius akan stabilitas pasokan energi global, terutama mengingat Selat Hormuz, urat nadi perdagangan minyak dunia, berada dalam bayang-bayang ancaman.
Data dari Refinitiv pukul 09.30 WIB mencatat, harga minyak Brent untuk kontrak September (LCOc1) melambung ke US$79,27 per barel, sebuah kenaikan signifikan 4,29% dari penutupan Jumat (10/7/2026) di US$76,01 per barel. Tak ketinggalan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga ikut menanjak 4,38%, mencapai US$74,54 per barel dari sebelumnya US$71,41 per barel. Lonjakan ini mendorong harga Brent ke level tertinggi sejak pertengahan Juni, dengan penguatan sekitar 10,8% dari awal Juli, sementara WTI menguat sekitar 8,7% dalam periode yang sama.

Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama gejolak pasar kali ini. Laporan Reuters mengindikasikan bahwa Iran memperluas serangannya hingga ke Qatar dan Uni Emirat Arab, menyusul serangan balasan yang dilancarkan oleh AS terhadap Iran. Aksi saling serang ini bukan hanya sekadar friksi, melainkan sebuah peringatan serius akan potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk yang sangat krusial bagi dunia.
Fokus utama para investor kini tertuju pada Selat Hormuz. Jalur maritim sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini merupakan koridor vital bagi sepertiga perdagangan minyak global. Meski Presiden AS Donald Trump menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka untuk lalu lintas komersial, pernyataan sebelumnya dari Iran yang mengklaim telah menutup jalur tersebut setelah insiden kapal yang melintasi rute tak disetujui, menambah ketidakpastian. Data pelacakan kapal dari Kpler bahkan menunjukkan hanya enam kapal yang melintasi selat tersebut pada Minggu, angka terendah dalam lima pekan terakhir, mengindikasikan penurunan aktivitas yang mengkhawatirkan.
Meskipun demikian, lonjakan harga minyak kali ini belum mencapai tingkat ekstrem seperti pada puncak perang sebelumnya. Analis pasar cenderung melihat situasi ini sebagai bagian dari eskalasi dalam "gencatan senjata yang rapuh", bukan sebagai kehancuran total kesepakatan damai antara AS dan Iran. Laporan bulanan dari International Energy Agency (IEA) yang dirilis Jumat lalu juga memberikan gambaran bahwa pasokan minyak dunia memang meningkat 4,1 juta barel per hari setelah kesepakatan sementara AS-Iran pada Juni, namun volume tersebut masih 9,4 juta barel per hari di bawah kondisi pra-perang.
Di tengah ketegangan geopolitik ini, Iran justru menghadapi tantangan lain yang tak kalah pelik dalam memasarkan minyaknya. Reuters melaporkan bahwa stok minyak Iran yang tersimpan di laut terus menumpuk, akibat Teheran yang meningkatkan ekspor selama periode "perdamaian sementara" dengan AS. Ironisnya, pembeli utama Iran, yaitu China, kini mulai mengalihkan perhatiannya ke minyak dari Irak, Qatar, dan Uni Emirat Arab yang ditawarkan dengan harga lebih kompetitif.
Kilang-kilang independen di Provinsi Shandong, China, dalam beberapa pekan terakhir telah mengakuisisi sekitar 16 juta hingga 20,5 juta barel minyak dari tiga negara Timur Tengah tersebut. Ini merupakan pembelian minyak non-sanksi terbesar sejak konflik dimulai. Akibat pergeseran permintaan ini, daya tarik minyak Iran pun memudar. Kargo dari Irak, Abu Dhabi, dan negara Teluk lainnya dipasarkan dengan diskon US$5-US$8 per barel terhadap Brent, sementara diskon minyak Iran hanya berkisar US$2-US$3 per barel. Seorang pedagang senior bahkan menyebut minyak Iran kini menjadi yang termahal di kawasan. Data Kpler lebih lanjut menunjukkan, impor minyak Iran oleh China bulan ini hanya mencapai 556 ribu barel per hari, terendah sejak Januari 2023.
Dengan demikian, di tengah penurunan permintaan dari pembeli utamanya dan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, pasar minyak global kembali bergerak di bawah bayang-bayang risiko geopolitik yang tak kunjung mereda. Ketidakpastian pasokan dan dinamika permintaan yang bergeser menjadi kombinasi yang menantang bagi stabilitas harga minyak di masa mendatang.
