Close Menu
    What's Hot

    Indra Kenz Kembali Masuk Penjara

    10-10-2026 - 20.06

    Rahasia Pajak Triliunan Rupiah Sang Diktator

    10-10-2026 - 20.02

    Cara Ampuh Bersihkan Nama dari SLIK OJK

    10-10-2026 - 18.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Indra Kenz Kembali Masuk Penjara
    • Rahasia Pajak Triliunan Rupiah Sang Diktator
    • Cara Ampuh Bersihkan Nama dari SLIK OJK
    • Cara Mudah Urus Rekening Bank Almarhum
    • Mantan Menteri Jualan Beras di Glodok
    • Runtuhnya Kerajaan Gula Terbesar di Semarang
    • Waspada Saldo Ludes Akibat Modus M-Banking Baru
    • Strategi BI Amankan Rupiah
    Sabtu, 10 Oktober 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Terungkap! Efek BI Rate 5,75% ke Industri, Kata Penasihat Presiden
    Pangan

    Terungkap! Efek BI Rate 5,75% ke Industri, Kata Penasihat Presiden

    29-06-2026 - 02.063 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    Agroplus – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) hingga menyentuh angka 5,75% telah memicu beragam spekulasi dan kekhawatiran di kalangan pelaku industri serta pekerja. Menanggapi polemik ini, Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, angkat bicara, menegaskan bahwa langkah tersebut, meski terasa berat, merupakan keniscayaan demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

    Menurut Said Iqbal, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan bukanlah tanpa dasar. Ini adalah upaya krusial untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Ia menjelaskan bahwa BI selama ini telah berupaya keras melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan memanfaatkan cadangan devisa. Namun, strategi ini tidak dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Akar masalahnya, lanjut Said, terletak pada fundamental kepercayaan investor asing yang cenderung menarik modalnya (outflow) dari pasar modal Indonesia.

    Terungkap! Efek BI Rate 5,75% ke Industri, Kata Penasihat Presiden
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    "Investor asing kan yang setiap hari menarik modalnya atau keluar, outflow dalam sistem pasar modal di Indonesia," papar Said. "Maka cara yang kedua yang digunakan BI. Mau tidak mau, untuk sementara ini, sebelum ekonomi normal atau kepercayaan masih pada titik yang rendah, maka (langkahnya) adalah menaikkan suku bunga."

    Said Iqbal mengakui bahwa situasi ini ibarat ‘buah simalakama’, sebuah dilema yang sulit. Namun, ia meyakini bahwa Bank Indonesia telah mempertimbangkan dengan matang segala konsekuensi dari kebijakan ini. Ia juga menekankan bahwa kenaikan suku bunga ini bersifat temporer, bukan permanen. "Tidak untuk jangka selamanya," tegas Said. Ia optimis, ketika kondisi ekonomi kembali normal dan rupiah mulai menguat terhadap dolar, suku bunga acuan akan diturunkan kembali. Tujuannya jelas, agar industri dapat kembali meminjam kredit usaha dengan biaya yang lebih rendah, mendorong pertumbuhan sektor riil.

    Namun, di balik upaya stabilisasi makroekonomi, Said tidak menampik adanya tekanan signifikan yang dialami banyak perusahaan, terutama yang sangat bergantung pada bahan baku impor. Fluktuasi nilai tukar dolar AS menjadi beban berat. Ia mencontohkan kasus PT Molex Ayus Pharmaceutical, perusahaan farmasi yang sempat dikabarkan menghadapi ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat kesulitan memenuhi permintaan kenaikan upah minimum pekerja.

    "Perusahaan seperti Molex Ayus kesulitan karena bahan baku produksi dibeli dengan dolar AS, sementara produknya dijual di dalam negeri dalam rupiah," jelas Said. Kesenjangan ini menciptakan beban operasional yang memberatkan, memangkas margin keuntungan, dan pada akhirnya berpotensi mengancam keberlangsungan usaha serta lapangan kerja.

    Dengan demikian, pernyataan Penasihat Presiden ini memberikan gambaran kompleksitas kebijakan moneter yang harus menyeimbangkan antara stabilitas makroekonomi dan dampak riil terhadap sektor industri serta kesejahteraan pekerja. Tantangan ke depan adalah bagaimana menemukan solusi jangka panjang yang dapat memperkuat fundamental ekonomi tanpa mengorbankan daya saing industri dalam negeri, sebagaimana dilaporkan oleh agroplus.co.id.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Indra Kenz Kembali Masuk Penjara

    10-10-2026 - 20.06

    Rahasia Pajak Triliunan Rupiah Sang Diktator

    10-10-2026 - 20.02

    Cara Ampuh Bersihkan Nama dari SLIK OJK

    10-10-2026 - 18.06

    Cara Mudah Urus Rekening Bank Almarhum

    10-10-2026 - 18.02

    Mantan Menteri Jualan Beras di Glodok

    10-10-2026 - 15.06

    Runtuhnya Kerajaan Gula Terbesar di Semarang

    10-10-2026 - 15.02
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Indra Kenz Kembali Masuk Penjara

    agroplus.co.id – Nasib malang kembali menimpa Indra Kesuma, atau yang lebih dikenal publik dengan nama…

    Rahasia Pajak Triliunan Rupiah Sang Diktator

    10-10-2026 - 20.02

    Cara Ampuh Bersihkan Nama dari SLIK OJK

    10-10-2026 - 18.06

    Cara Mudah Urus Rekening Bank Almarhum

    10-10-2026 - 18.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.