Agroplus – Presiden terpilih Prabowo Subianto dikabarkan tengah menginisiasi sebuah program ambisius untuk merevolusi kualitas buku pelajaran di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Langkah ini diambil sebagai bagian integral dari upaya peningkatan mutu pendidikan nasional secara menyeluruh, menyadari bahwa materi ajar adalah fondasi penting bagi generasi penerus.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Presiden Prabowo telah menugaskan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya untuk melakukan studi komparatif mendalam terhadap isi dan kualitas buku-buku pelajaran dari negara-negara tetangga. Inisiatif ini berangkat dari keyakinan bahwa perbaikan pendidikan tidak hanya bertumpu pada kualitas guru atau sarana prasarana sekolah, melainkan juga pada buku pelajaran yang digunakan sehari-hari.

"Intinya kita mau memperbaiki kualitas buku ajar bagi seluruh adik-adik peserta didik kita mulai dari SD, SMP, maupun SMA," tegas Prasetyo Hadi dalam sebuah kesempatan di Presidential Lounge, Kompleks Istana Kepresidenan, belum lama ini. Ia menjelaskan bahwa perbaikan ini adalah tindak lanjut langsung dari petunjuk Presiden Prabowo yang meminta untuk mempelajari dan membandingkan buku-buku pelajaran sekolah dengan beberapa negara sahabat.
Sejumlah buku pelajaran dari berbagai negara, termasuk Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Timor Leste, Kamboja, hingga Vietnam, telah dikumpulkan sebagai bahan perbandingan. Tim gabungan yang melibatkan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Dasar Menengah, serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pun telah dibentuk khusus untuk menganalisis dan membandingkan materi ajar tersebut demi perbaikan kurikulum nasional.
Seskab Teddy Indra Wijaya menambahkan bahwa perhatian Presiden terhadap pembaharuan buku ajar ini bermula dari observasi langsung saat kunjungan kerja ke sejumlah sekolah. "Saat mengecek buku pelajaran, itu beliau lihat satu per satu, kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang sudah rusak juga, kemudian tulisannya kecil-kecil sehingga anak SD khususnya baca sangat dekat. Ya kalau dibaca kurang baik," ungkap Teddy, menjelaskan alasan di balik instruksi Presiden untuk mengecek seluruh buku dari SD hingga SMA.
Berdasarkan temuan tersebut, Presiden menginstruksikan perbandingan buku ajar dari negara tetangga sebagai evaluasi komprehensif untuk meningkatkan kualitas buku pelajaran nasional. Lebih jauh, muncul pula gagasan inovatif agar buku pelajaran di Indonesia dapat di-scan dan diunduh secara digital, terintegrasi dengan interactive flat panel atau layar pintar yang akan didistribusikan ke setiap sekolah. Ini menandakan sebuah lompatan besar menuju ekosistem pembelajaran yang lebih modern dan adaptif, memastikan akses materi yang lebih baik dan interaktif bagi seluruh peserta didik.
