agroplus.co.id – Di tengah fenomena meningkatnya angka "kredit nganggur" atau undisbursed loan (UL) yang melanda industri perbankan nasional, PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) justru menunjukkan performa yang kontras. Alih-alih membiarkan fasilitas kredit mengendap tanpa penggunaan, bank yang berafiliasi dengan raksasa finansial asal Korea Selatan ini berhasil mencatatkan tingkat penyerapan kredit yang sangat tinggi.
Hingga periode berjalan, tingkat penyaluran atau disbursement loan yang dilakukan KB Bank mampu menyentuh angka hampir 80 persen dari total komitmen kredit yang telah disepakati dengan nasabah. Angka ini menjadi catatan menarik mengingat kondisi industri secara umum sedang menghadapi tantangan serupa, di mana banyak plafon kredit yang sudah disetujui namun belum ditarik oleh debitur.

Direktur Wholesale Banking KB Bank, Widodo Suryadi, mengungkapkan bahwa tingginya angka penyerapan ini merupakan hasil dari ketepatan bank dalam memetakan kebutuhan nasabah. Menurutnya, fasilitas kredit yang ditawarkan kepada para debitur telah dirancang secara spesifik agar selaras dengan kebutuhan modal kerja mereka.
"Sampai hari ini, tingkat disbursement kami cukup tinggi. Jika dirata-rata, total utilisasi mencapai hampir 80 persen dari total booking capital yang kami berikan," ujar Widodo dalam sebuah kesempatan di Jakarta Selatan. Meski mengejar target pertumbuhan, Widodo menegaskan bahwa KB Bank tidak akan mengabaikan aspek fundamental perbankan, yakni prinsip kehati-hatian dalam menjalankan fungsi intermediasi.
Fenomena "kredit nganggur" ini memang tengah menjadi perhatian serius di sektor keuangan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada Juli 2026, total UL di industri perbankan tercatat mencapai Rp2.548 triliun. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 7,80 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang berada di angka Rp2.364 triliun.
KB Bank sendiri tengah melakukan transformasi dengan memperkuat fokus pada sektor wholesale banking. Strategi ini menempatkan bank sebagai mitra keuangan strategis bagi pelaku bisnis hingga institusi skala besar. Layanan mereka terbagi ke dalam tiga pilar utama, yakni Corporate Banking, Commercial Banking, dan Enterprise Banking, yang semuanya didukung oleh kekuatan Transaction Banking.
Berkat fokus pada segmen ini, KB Bank memiliki keunggulan kompetitif di mana jumlah kredit nganggur mereka jauh lebih kecil dibandingkan rata-rata industri perbankan nasional. Pertumbuhan kredit baru di segmen wholesale hingga Juni 2026 tercatat mencapai 13 persen, dan manajemen optimis angka ini dapat menembus 15 persen pada akhir tahun mendatang berkat pipeline bisnis yang menjanjikan.
Untuk memperkuat ekosistem nasabah, KB Bank mengandalkan solusi terintegrasi. Transaction Banking Division Head KB Bank, Novita S. Djani, menjelaskan bahwa pihaknya menghadirkan konsep "One KB Solutions". Melalui platform ini, nasabah dapat mengelola seluruh kebutuhan transaksi mereka dalam satu pintu, mulai dari konektivitas bisnis hingga manajemen arus kas masuk dan keluar secara efisien.
Hingga Juni 2026, total penyaluran kredit KB Bank telah mencapai Rp44,97 triliun, tumbuh sebesar 4,38 persen secara tahunan. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa strategi penyaluran kredit yang berbasis kebutuhan riil mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika pasar yang menantang.
