Agroplus – Presiden RI, Prabowo Subianto, mengumumkan kabar gembira bagi sektor pertanian dan seluruh rakyat Indonesia. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan (6/8), Prabowo menyatakan bahwa cadangan pangan pemerintah saat ini mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Pernyataan ini mengindikasikan ketahanan pangan nasional berada dalam kondisi yang sangat kuat dan aman.
Prabowo menekankan bahwa keberhasilan ini adalah buah dari transisi kepemimpinan yang mulus dari Presiden Joko Widodo, serta sinergi yang solid antar kementerian dan lembaga negara. Dukungan penuh dari TNI, Polri, Kejaksaan Agung, hingga Kementerian Keuangan, menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan produksi pangan nasional.

"Ini adalah hasil kerja tim yang luar biasa. Menteri Pertanian didukung oleh menteri-menteri lain, serta TNI, Polri, dan Kejaksaan. Kita harus waspada karena dalam ekonomi, ada pihak-pihak yang memiliki agenda berbeda," ujar Prabowo, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap ancaman yang dapat menggagalkan upaya pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan.
Prabowo menegaskan bahwa kedaulatan pangan adalah fondasi utama kemerdekaan suatu bangsa. Tanpa kemampuan memproduksi pangan sendiri, sebuah negara akan rentan terhadap tekanan eksternal dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya.
"Jika kita bisa mengamankan pangan, kita bisa menjamin rakyat kita makan setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun. Saya tidak pernah percaya bahwa suatu bangsa bisa merdeka kalau dia tidak bisa produksi pangannya sendiri," tegas Prabowo.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras dari Januari hingga Juni 2025 mencapai 19,16 juta ton, melonjak 13,53% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Potensi produksi beras triwulan III diperkirakan mencapai 9,08 juta ton, naik 11,17% dari tahun sebelumnya.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelumnya juga menyampaikan bahwa sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Data BPS menunjukkan ekonomi nasional tumbuh 5,12% (yoy) dan 4,04% (qtq), dengan kontribusi sektor pertanian mencapai 13,83% terhadap PDB, menjadikannya sektor terbesar kedua setelah industri pengolahan.
"Di tengah ketidakpastian global, sektor pertanian tampil sebagai tulang punggung ekonomi nasional," ungkap Amran.
Pertumbuhan Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan pada triwulan II-2025 mencapai 13,53%, tertinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (9,74%). Nilai tambah sektor ini meningkat dari Rp361,5 triliun (triwulan I) menjadi Rp410,4 triliun (triwulan II).
“Di bawah arahan Presiden Prabowo, pemerintah berkomitmen kuat terhadap kemandirian pangan, keberpihakan kepada petani, serta kebijakan yang berdampak langsung di lapangan sebagai landasan utama pembangunan pertanian nasional yang berkelanjutan dan berdaulat,” pungkas Amran. Informasi ini dikutip dari agroplus.co.id. Verdifjord