Agroplus – Gejolak ketidakpastian terus membayangi pasar keuangan Indonesia, menciptakan tantangan tersendiri bagi para investor. Menurut Doni Firdaus, Direktur Investasi Bahana TCW Investment Management, sentimen eksternal dan internal menjadi pemicu utama fluktuasi yang terjadi, menuntut strategi investasi yang lebih adaptif dan cermat.
Dari kancah global, konflik di Timur Tengah yang tak kunjung usai dan era suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh bank sentral global, khususnya The Fed, menjadi bayang-bayang yang memicu kekhawatiran. Situasi geopolitik dan kebijakan moneter yang ketat ini berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global dan berdampak pada arus modal ke negara berkembang seperti Indonesia. Sementara itu, dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati dengan seksama hasil review peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional S&P, serta arah kebijakan fiskal pemerintah Republik Indonesia ke depan. Semua faktor ini secara kolektif membentuk lanskap pasar yang penuh perhitungan, di mana setiap keputusan investasi harus dipertimbangkan matang-matang.

Melihat kondisi ini, pertanyaan krusial yang muncul di benak setiap investor adalah: ke mana seharusnya arah investasi diarahkan di tengah badai ketidakpastian global ini? Pilihan instrumen investasi yang tepat menjadi kunci untuk menjaga portofolio tetap resilien dan bahkan berpotensi tumbuh. Pertanyaan inilah yang menjadi inti pembahasan dalam dialog eksklusif antara Andi Shalini dengan Doni Firdaus di program Power Lunch, CNBC Indonesia, pada Jum’at, 12 Juni 2026. Diskusi ini diharapkan dapat memberikan pencerahan mengenai strategi investasi pilihan Manajer Investasi (MI) di tengah kondisi pasar yang dinamis ini, membantu investor mengambil keputusan terbaik demi masa depan keuangan mereka.
