Close Menu
    What's Hot

    Rahayu Saraswati Mundur dari Komisaris Utama TRIN

    11-10-2026 - 23.06

    Danza Jadi Nama Baru Mobil Premium BYD

    11-10-2026 - 23.02

    BRI Kokoh Jadi Merek Paling Berharga di RI

    11-10-2026 - 20.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Rahayu Saraswati Mundur dari Komisaris Utama TRIN
    • Danza Jadi Nama Baru Mobil Premium BYD
    • BRI Kokoh Jadi Merek Paling Berharga di RI
    • Ameriza Pimpin BI Sumatera Utara
    • Misteri Rupiah dan Gejolak Politik RI
    • Cara Cairkan Saldo JHT Tanpa Resign
    • Strategi Unik BI Tarik Modal Asing
    • Kasus hukum yang menyeret keluarga konglomerat sawit Indonesia kembali memanas di Singapura. Kali ini, perhatian tertuju pada penyitaan dana fantastis senilai Rp1,9 triliun milik Bill Darmadi, putra dari Surya Darmadi, bos besar di balik Duta Palma Group dan Darmex Agro Group.
    Minggu, 11 Oktober 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Investasi ART di VOC: Untung Sesaat, Rugi Seumur Hidup?
    Pangan

    Investasi ART di VOC: Untung Sesaat, Rugi Seumur Hidup?

    14-06-2026 - 15.063 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    Agroplus – Kisah investasi di pasar saham seringkali menarik perhatian, apalagi jika pelakunya adalah seseorang yang tak terduga. Jauh sebelum era digital, pada masa Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC), seorang asisten rumah tangga (ART) bernama Neeltgen Cornelis nekat menguras tabungannya untuk membeli saham. Keputusannya ini, meski menghasilkan keuntungan sesaat, menyimpan pelajaran berharga tentang investasi jangka panjang yang relevan hingga kini.

    Peristiwa unik ini terjadi pada tahun 1602, ketika VOC pertama kali menawarkan sahamnya ke publik. Rumah Dirck van Os, yang kebetulan adalah direktur VOC sekaligus majikan Neeltgen, menjadi pusat keramaian. Para investor hilir mudik, sibuk dengan urusan jual beli saham yang kala itu masih dicatat manual di atas kertas. Di tengah hiruk pikuk itulah, Neeltgen, yang sehari-hari bekerja di rumah tersebut, mulai terpantik rasa penasaran. Ia melihat potensi keuntungan besar dari perusahaan dagang yang ambisius itu.

    Investasi ART di VOC: Untung Sesaat, Rugi Seumur Hidup?
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Namun, niat Neeltgen terbentur kenyataan pahit. Sebagai seorang pembantu, gajinya kala itu kurang dari lima puluh sen dalam sehari, jumlah yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Membeli saham terasa seperti mimpi di siang bolong. Keraguan menghantuinya setiap hari, antara keinginan kuat untuk berinvestasi dan keterbatasan finansial yang nyata.

    Hingga menjelang penutupan penawaran perdana saham VOC di penghujung Agustus, Neeltgen akhirnya membulatkan tekad. Ia berpikir akan menyesal seumur hidup jika tidak mengambil kesempatan ini. Dengan napas dalam, ia menarik seluruh tabungannya, sejumlah 100 gulden, dan menyerahkannya kepada majikannya untuk diinvestasikan. Namanya pun tercatat sebagai salah satu pemegang saham VOC, meski dengan porsi yang sangat kecil dibandingkan para "bos" VOC yang berinvestasi puluhan ribu gulden.

    Lantas, bagaimana nasib investasi Neeltgen? Menurut catatan Petram, ia memang sempat merasakan keuntungan. Namun, keuntungan itu hanya sesaat. Pada Oktober 1603, atau hanya setahun setelah pembelian, Neeltgen memutuskan untuk menjual seluruh sahamnya kepada seorang bernama Jacques de Pourcq.

    Keputusan ini ternyata menjadi penyesalan besar jika dilihat dari kacamata sejarah. Andai saja Neeltgen mempertahankan kepemilikannya, 100 gulden itu berpotensi berlipat ganda menjadi ribuan gulden. Bahkan, pemegang saham VOC kala itu bisa menerima rempah-rempah sebagai dividen, komoditas yang menjadi tulang punggung kejayaan VOC dan sumber kekayaan Nusantara.

    Dalam beberapa tahun setelah IPO, VOC memang terbukti menjadi perusahaan dagang terbesar di dunia, menguasai rempah-rempah dari bumi Nusantara dan mendulang kekayaan luar biasa. Kisah Neeltgen ini menjadi pengingat bahwa dalam investasi, kesabaran dan visi jangka panjang seringkali menjadi kunci utama keberhasilan, bahkan untuk komoditas pertanian yang kala itu menjadi primadona dunia. Pelajaran dari masa lalu ini masih sangat relevan untuk para investor di masa kini, bahwa keputusan tergesa-gesa bisa berarti kehilangan potensi keuntungan yang jauh lebih besar.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Rahayu Saraswati Mundur dari Komisaris Utama TRIN

    11-10-2026 - 23.06

    Danza Jadi Nama Baru Mobil Premium BYD

    11-10-2026 - 23.02

    BRI Kokoh Jadi Merek Paling Berharga di RI

    11-10-2026 - 20.06

    Ameriza Pimpin BI Sumatera Utara

    11-10-2026 - 20.02

    Misteri Rupiah dan Gejolak Politik RI

    11-10-2026 - 18.06

    Cara Cairkan Saldo JHT Tanpa Resign

    11-10-2026 - 18.02
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Rahayu Saraswati Mundur dari Komisaris Utama TRIN

    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Danza Jadi Nama Baru Mobil Premium BYD

    11-10-2026 - 23.02

    BRI Kokoh Jadi Merek Paling Berharga di RI

    11-10-2026 - 20.06

    Ameriza Pimpin BI Sumatera Utara

    11-10-2026 - 20.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.