agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan tren negatif yang cukup mengkhawatirkan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami pelemahan signifikan selama dua hari perdagangan berturut-turut. Pada penutupan perdagangan Selasa (27/10/2026), indeks yang menjadi barometer kesehatan ekonomi Indonesia ini harus merosot ke level 5.266,13, atau mengalami penurunan sebesar 1,99 persen.
Kondisi ini memberikan tekanan psikologis bagi para pelaku pasar, terutama investor ritel yang tengah memantau stabilitas ekonomi nasional. Berdasarkan data aktivitas perdagangan yang dihimpun, volume transaksi di bursa tercatat mencapai angka 364,38 juta lot. Jika dikonversikan ke dalam nilai moneter, total nilai transaksi yang berputar di pasar mencapai Rp17,94 triliun. Meskipun angka transaksi terlihat cukup besar, namun arah pergerakan indeks tetap menunjukkan dominasi sentimen negatif.

Penyebab utama dari merosotnya IHSG kali ini diduga kuat berasal dari aksi jual masif yang dilakukan oleh investor asing. Berdasarkan data pasar, investor luar negeri terpantau melakukan aksi net sell atau penjualan bersih dengan nilai yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp668,26 miliar di seluruh pasar. Secara lebih spesifik, di pasar reguler saja, aliran dana keluar dari investor asing menyentuh angka Rp40,62 miliar.
Meskipun demikian, tidak sepenuhnya aliran dana keluar dari pasar Indonesia. Di pasar negosiasi dan pasar tunai, investor asing justru menunjukkan sedikit perlawanan dengan melakukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp40,62 miliar. Namun, angka pembelian ini tidak cukup kuat untuk membendung gelombang penjualan besar-besaran yang terjadi di pasar reguler, sehingga IHSG tetap tidak mampu bertahan dari tekanan jual.
Fenomena outflow atau keluarnya modal asing ini memicu pertanyaan besar di kalangan pengamat pasar: saham apa saja yang menjadi target utama pelepasan aset oleh investor global? Berdasarkan data yang dihimpun dari Stockbit, terdapat daftar 10 saham yang mengalami aksi jual bersih (net foreign sell) paling tinggi selama perdagangan tersebut.
Aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar ini menjadi faktor kunci yang menyeret IHSG ke zona merah. Ketika investor asing mulai meninggalkan saham-saham unggulan, hal ini menciptakan efek domino yang menurunkan kepercayaan pasar secara keseluruhan. Para analis menyarankan agar investor tetap waspada terhadap volatilitas pasar dalam beberapa hari ke depan, mengingat arus modal asing masih cenderung tidak menentu.
Hingga berita ini diturunkan, para pelaku pasar masih menunggu sinyal pembalikan arah atau rebound dari IHSG. Fokus pasar kini tertuju pada apakah tekanan jual asing akan mereda atau justru akan berlanjut ke sesi perdagangan berikutnya, yang dapat memperdalam koreksi indeks lebih lanjut.
