Agroplus – Harga beras, baik medium maupun premium, terus merangkak naik di berbagai wilayah Indonesia. Data terbaru dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan, harga beras di tingkat konsumen telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Kondisi ini terjadi meskipun pemerintah telah berupaya menstabilkan harga melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan penyaluran bantuan pangan.
Secara nasional, harga rata-rata beras medium mencapai Rp14.248 per kilogram, atau 13,98% di atas HET nasional yang sebesar Rp12.500. Kenaikan signifikan terlihat di Zona 3, di mana harga beras medium mencapai Rp16.694 per kilogram, melonjak 23,66% dari HET yang ditetapkan sebesar Rp13.500. Sementara itu, di Zona 1 harga beras medium tercatat Rp14.003 per kg (naik 12,02 persen dari HET Rp12.500), dan Zona 2 Rp14.220 (naik 8,55 persen dari HET Rp13.100).

Kondisi serupa juga terjadi pada beras premium. Harga rata-rata beras premium secara nasional mencapai Rp16.037 per kilogram, atau 7,63% di atas HET nasional sebesar Rp14.900. Di Zona 3, harga beras premium bahkan mencapai Rp18.258 per kilogram, jauh di atas HET zona tersebut yang sebesar Rp15.800. Di zona 1, harga mencapai Rp15.545 (naik 4,33 persen), zona 2 Rp16.447 (naik 6,8 persen).
Pemerintah terus berupaya menekan harga beras melalui berbagai program. Target penyaluran beras SPHP tahun ini ditetapkan sebesar 1,3 juta ton, sementara bantuan pangan ditargetkan mencapai 360 ribu ton. Perum Bulog mencatat, realisasi penyaluran beras untuk program SPHP hingga saat ini mencapai 182.415 ton, dan penyaluran bantuan pangan mencapai 2.686 ton. Upaya stabilisasi harga ini terus digencarkan untuk meringankan beban masyarakat. Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan harga pangan dapat diakses melalui agroplus.co.id. Verdifjord