Agroplus – Kabar kurang menyenangkan datang dari sektor perbankan Tanah Air. Di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia dilaporkan semakin ketat. Situasi ini berpotensi memicu apa yang disebut "perang bunga" antar bank, sebuah kondisi yang bisa membuat masyarakat, khususnya para debitur, merasa tercekik oleh tingginya biaya pinjaman.
Fenomena "perang bunga" ini bukan sekadar istilah belaka. Ini adalah persaingan sengit antar bank untuk menarik dana dari masyarakat, terutama dalam bentuk deposito, dengan menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Bank-bank, khususnya yang memiliki modal inti menengah (Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti/KBMI II dan III), merasakan tekanan paling besar. Mereka harus bekerja ekstra keras untuk menjaga ketersediaan dana agar tetap bisa menyalurkan kredit dan menjalankan fungsi intermediasi ekonomi.

M. Rizal Taufikurahman, Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menjelaskan bahwa keluhan mengenai ketatnya likuiditas yang datang dari bank-bank KBMI II dan III adalah indikasi jelas meningkatnya kompetisi. "Kondisi tersebut berpotensi memicu perang suku bunga deposito," kata Rizal, seperti dikutip dari CNBC Indonesia. Jika perang bunga ini benar-benar terjadi, biaya dana (cost of fund) bank akan melonjak, margin bunga bersih (NIM) tertekan, dan ruang untuk menurunkan bunga kredit menjadi sangat sempit. Ini berarti pemerintah dan otoritas moneter memiliki tantangan besar ke depan, tidak hanya menjaga stabilitas moneter, tetapi juga memastikan likuiditas perbankan tetap memadai agar fungsi intermediasi tidak terganggu.
Di sisi lain, Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, memberikan perspektif yang sedikit berbeda. Menurutnya, masalah utama saat ini bukan pada kekurangan likuiditas secara keseluruhan, melainkan pada distribusi likuiditas yang tidak merata antar-bank. "Bank besar (KBMI IV) cenderung lebih kuat karena basis dana murah (current account, saving account/CASA) dan ekosistem transaksi yang lebih luas," terang Josua. Sebaliknya, bank menengah (KBMI II-III) lebih rentan terhadap perpindahan dana dari deposan besar yang semakin sensitif terhadap imbal hasil. Indikasi perang bunga memang mulai muncul, namun Josua menambahkan bahwa persaingan ini masih selektif dan belum menjadi perang bunga besar di seluruh industri. Data simpanan per KBMI menunjukkan struktur dana sangat terkonsentrasi di bank besar, memaksa bank menengah untuk menawarkan bunga yang lebih kompetitif demi mempertahankan dana mereka, terutama saat Sertifikat Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) ritel juga menawarkan kupon tinggi.
Dampak dari "perang bunga" ini tentu tidak main-main bagi perekonomian. Jika biaya dana bank terus meningkat, bukan tidak mungkin suku bunga pinjaman bagi nasabah, baik individu maupun korporasi, akan ikut terkerek naik. Hal ini bisa menghambat investasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan pada akhirnya, memberatkan beban keuangan masyarakat. Oleh karena itu, langkah strategis dan koordinasi yang kuat dari pemerintah serta Bank Indonesia sangat dinantikan untuk memastikan sektor keuangan tetap stabil dan tidak mencekik potensi ekonomi nasional yang sedang berupaya bangkit.
