Agroplus – Pasar modal Indonesia kembali diguncang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan signifikan hari ini, bahkan memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memberlakukan ‘trading halt’ atau penghentian perdagangan sementara selama 30 menit demi meredakan gejolak.
Data terkini menunjukkan, pada pukul 09.58 WIB, IHSG anjlok tajam hingga 9,14%, kehilangan 760,76 poin dan bertengger di level 7.559,8. Kondisi ini mencerminkan kepanikan di lantai bursa, di mana mayoritas, yakni 728 saham, bergerak di zona merah. Hanya 34 saham yang berhasil menguat, sementara 196 lainnya stagnan. Total nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp 11,95 triliun, melibatkan 14,03 miliar saham dalam hampir satu juta kali transaksi, dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 13.659 triliun.

Penyebab utama tekanan jual ini tak lepas dari bayang-bayang sentimen negatif dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga indeks global terkemuka ini sebelumnya menyoroti kekhawatiran serius dari investor global terkait transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Meskipun ada sedikit perbaikan pada data ‘free float’ dari BEI, MSCI mencatat bahwa banyak investor masih meragukan keandalan kategorisasi pemegang saham oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Laporan ‘Monthly Holding Composition Report’ KSEI, yang seharusnya menjadi data pendukung, dinilai belum cukup kuat untuk menjamin penilaian ‘free float’ yang akurat dan kelayakan investasi di mata pasar global.
Kekhawatiran MSCI ini kemudian diperparah dengan langkah tegas dari Goldman Sachs. Bank investasi raksasa asal Amerika Serikat tersebut secara resmi menurunkan peringkat (rating) saham Indonesia menjadi ‘underweight’. Dalam analisis terbarunya, Goldman Sachs memprediksi bahwa aksi jual pasif atau ‘passive selling’ oleh investor global akan terus berlanjut. Ini merupakan respons langsung terhadap penilaian MSCI yang menganggap pasar saham Indonesia masih menghadapi isu struktural fundamental, terutama terkait transparansi kepemilikan saham dan ‘free float’. "Kami melihat potensi berlanjutnya aksi jual pasif, dan perkembangan ini berpotensi menjadi beban berat (‘overhang’) yang akan menekan performa pasar," demikian pernyataan analis Goldman Sachs, yang juga memangkas proyeksi IHSG menjadi ‘underweight’.
Situasi ini tentu menjadi tantangan serius bagi pasar modal Indonesia, menuntut perhatian lebih dari otoritas terkait untuk mengembalikan kepercayaan investor global.
