Agroplus – Kabar gembira datang dari sektor otomotif, khususnya kendaraan listrik (EV), yang menunjukkan potensi pertumbuhan layaknya lahan subur yang siap diolah. PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI), emiten yang bergerak di bidang suku cadang dan perawatan kendaraan, dikabarkan tengah menjalin kemitraan strategis dengan raksasa produsen kendaraan listrik global, BYD. Kolaborasi ini bertujuan untuk menanamkan pondasi kuat bagi pengembangan jaringan bengkel resmi BYD di seluruh Indonesia. Langkah ini dipandang sebagai bagian integral dari strategi BYD untuk memupuk ekosistem purna jual yang kokoh, seiring dengan ekspansi besar-besaran mereka di pasar domestik.
Sebelumnya, BYD telah mengumumkan investasi fantastis senilai sekitar Rp20 triliun untuk pembangunan fasilitas manufaktur kendaraan listrik di Indonesia. Ini bukan sekadar menanam benih produksi, melainkan menegaskan komitmen jangka panjang BYD untuk menggarap pasar nasional secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi pembuatan, tetapi juga dukungan layanan yang berkelanjutan dan andal.

Berdasarkan informasi yang beredar di kalangan pelaku industri, KAQI berencana membangun lebih dari 20 bengkel resmi BYD, dengan estimasi nilai proyek mencapai Rp300 miliar. Lokasi bengkel-bengkel ini akan difokuskan di kota-kota besar yang menunjukkan tingkat adopsi EV yang terus meningkat, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Bali, serta sejumlah wilayah strategis lainnya. Ini ibarat menyiram tanaman di lokasi yang paling potensial untuk tumbuh subur.
Langkah ini dinilai sangat selaras dengan kebutuhan BYD untuk memperluas jangkauan layanan purna jual. Ketersediaan bengkel resmi dan layanan perawatan jangka panjang merupakan salah satu faktor utama yang seringkali menjadi penentu keputusan konsumen dalam membeli kendaraan listrik. Tanpa dukungan purna jual yang kuat, adopsi EV akan sulit berakar.
"Dari sudut pandang emiten, potensi kerja sama ini diprediksi membawa dampak material yang signifikan terhadap kinerja KAQI. Sebagai perbandingan, KAQI membukukan penjualan sebesar Rp53,2 miliar pada kuartal ketiga tahun 2025. Dengan estimasi nilai kontrak bengkel BYD yang mencapai Rp300 miliar, skala proyek ini jelas jauh lebih besar, menjanjikan potensi panen yang jauh lebih besar dibandingkan capaian historis perusahaan," ungkap John Aprijaya, seorang Analis Pasar Modal, pada Selasa (27/1/2026).
Bisnis bengkel resmi EV memiliki karakteristik unik yang menjanjikan aliran pendapatan berkelanjutan (recurring income) dari servis berkala, penjualan suku cadang, hingga perawatan baterai. Ini berbeda dengan proyek-proyek satu kali, sehingga dampaknya terhadap arus kas perusahaan bisa lebih stabil dan berkelanjutan, layaknya mata air di ladang yang subur.
John menambahkan bahwa keterlibatan langsung KAQI dalam ekosistem kendaraan listrik dapat meningkatkan daya tarik valuasi perusahaan di mata investor. "Kemitraan dengan prinsipal global sekelas BYD bisa menjadi faktor re-rating, karena pasar biasanya memberikan premi terhadap emiten yang terintegrasi dalam rantai pasok kendaraan listrik, seolah nilai tanahnya menjadi semakin berharga," jelasnya.
Sejumlah data dan tren pasar turut memperkuat relevansi kabar ini. Penjualan kendaraan listrik di Indonesia terus mencatat pertumbuhan signifikan, didorong oleh berbagai insentif pemerintah dan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kendaraan ramah lingkungan. "Di sisi lain, BYD saat ini tercatat sebagai pemimpin penjualan EV di Indonesia, melampaui sejumlah merek global lainnya, membuktikan diri sebagai petani paling produktif di ladang hijau kendaraan listrik ini," imbuhnya.
Dengan rencana pembangunan pabrik lokal, BYD diperkirakan membutuhkan mitra domestik yang mampu mengeksekusi ekspansi layanan secara cepat dan efisien, khususnya di tahap awal penetrasi pasar. "Mereka membutuhkan tangan-tangan terampil lokal untuk mengolah lahan ini agar hasilnya maksimal," pungkas John.
