Agroplus – Kabar gembira datang dari Perum Bulog! Badan usaha milik negara (BUMN) ini memproyeksikan keuntungan fantastis hingga Rp 2,4 triliun jika pemerintah menyetujui margin penugasan sebesar 7%. Proyeksi optimis ini disampaikan oleh Direktur Keuangan Perum Bulog, Hendra Susanto, dalam sebuah acara diskusi di Jakarta Selatan, Jumat (23/1).
Saat ini, Bulog masih mencatatkan potensi kerugian sementara sekitar Rp 550 miliar akibat margin penugasan yang masih rendah, yakni di kisaran Rp 50. Informasi ini sebelumnya telah disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI.

Namun, Hendra Susanto menegaskan bahwa persetujuan margin 7% akan membalikkan keadaan finansial Bulog secara signifikan. Dengan margin tersebut, Bulog diprediksi mampu mencetak keuntungan antara Rp 2,4 triliun hingga Rp 2,5 triliun. "Ini akan sangat menyehatkan bagi Bulog," ujarnya.
Hendra menjelaskan bahwa setiap penugasan yang diberikan pemerintah seharusnya mencakup biaya dan margin yang wajar. Hal ini sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025, khususnya Pasal 19 huruf H, yang menjamin Bulog memperoleh kompensasi dan margin yang layak.
Besaran margin wajar ini telah dihitung secara cermat oleh Bulog dengan melibatkan ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Hasilnya menunjukkan angka rata-rata 7%, yang sejalan dengan margin yang diterima oleh entitas penerima subsidi pemerintah lainnya.
Hendra berharap dukungan dari berbagai pihak, termasuk media, agar kebijakan margin ini dapat segera ditetapkan. Menurutnya, margin yang memadai sangat penting agar Bulog dapat terus menyerap dan menyalurkan pangan dalam skala besar, demi menjaga swasembada pangan nasional.
"Mudah-mudahan dalam waktu dekat peraturan ini bisa ditetapkan, sehingga Bulog bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara," pungkas Hendra. Dengan margin yang sehat, Bulog diharapkan dapat menjalankan perannya sebagai stabilisator harga pangan dan menjaga ketahanan pangan nasional dengan lebih optimal.