Agroplus – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meluncurkan strategi inovatif untuk memulihkan sektor pertanian pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dengan skema padat karya, petani tidak hanya diajak merehabilitasi lahan mereka yang rusak, tetapi juga dipastikan tetap memperoleh penghasilan yang layak, mengubah tantangan menjadi peluang ekonomi.
Mentan Amran, saat acara groundbreaking rehabilitasi lahan sawah terdampak bencana di Lhokseumawe, Aceh, Kamis (15/1), menegaskan bahwa pendekatan ini adalah perintah langsung dari Presiden. "Sawah yang rusak itu diperbaiki sendiri oleh pemiliknya, tetapi biayanya ditanggung oleh pemerintah pusat. Jadi saudara kita punya pendapatan, sementara benih dibantu gratis, pengolahan tanah, perbaikan irigasi semuanya dibantu pusat," jelasnya, menjamin kesejahteraan petani.

Konsep padat karya ini dirancang agar setiap pemilik sawah terlibat aktif dalam proses pemulihan. Mereka bekerja di lahan mereka sendiri dan menerima upah harian yang memadai untuk kebutuhan keluarga. "Pendapatan hariannya cukup untuk harian, bekerja di sawahnya sendiri. Sementara pengolahan tanah, benih, dan irigasi ditanggung pemerintah pusat," imbuh Mentan, menekankan kemandirian dan dukungan penuh pemerintah.
Secara spesifik di Aceh, sekitar 10.000 hektare lahan sawah akan direhabilitasi. Proyek masif ini membutuhkan tenaga kerja hingga 200.000 Hari Orang Kerja (HOK) yang akan dibayar secara harian, menciptakan lapangan kerja sementara yang signifikan. Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah menargetkan lahan dengan kategori rusak ringan hingga sedang dapat diselesaikan maksimal dalam tiga bulan. "Khusus Aceh, bersamaan dengan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang ringan dan sedang maksimal tiga bulan sudah selesai," ujar Mentan Amran, menunjukkan optimisme terhadap target yang ambisius.
Tidak hanya mengandalkan kekuatan petani, Kementerian Pertanian juga mengadopsi teknologi modern dalam rehabilitasi ini. Traktor disiapkan untuk pengolahan tanah, perbaikan jaringan irigasi dilakukan secara intensif, bahkan lahan yang tertimbun lumpur dalam akan ditangani dengan teknologi drone. "Ini teknologi baru yang kita gunakan," katanya, menunjukkan komitmen terhadap efisiensi dan inovasi di sektor pertanian.
Di tengah upaya pemulihan ini, Mentan Amran memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga. Stok beras saat ini mencapai 3,2 juta ton, dinilai sangat kuat untuk memenuhi kebutuhan hingga enam bulan ke depan. "Saudaraku, sahabatku yang kena bencana, pangan tidak ada masalah di tiga provinsi, bahkan seluruh Indonesia," tegasnya, menenangkan masyarakat dan menjamin pasokan pangan.
Data Kementan menunjukkan total lahan pertanian terdampak bencana di tiga provinsi mencapai sekitar 98 ribu hektare, dengan Aceh menyumbang sekitar 32 ribu hektare. Mentan Amran optimistis pemulihan dapat berjalan cepat berkat kolaborasi dan kerja keras semua pihak. "Kalau kita kerja ikhlas, kerja bersama, kolaborasi, insya Allah ini bisa kita selesaikan cepat. Tidak ada kendala berarti," ujarnya. Ia juga menekankan bahwa skema padat karya ini menyeluruh, "Semua yang punya lahan kita libatkan. Kami tidak ingin kontraktor besar masuk, tetapi padat karya, sehingga mereka berpendapatan," ujarnya, memastikan manfaat langsung dirasakan petani.
Dukungan penuh datang dari legislatif. Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi Soeharto, menyatakan kesiapan Komisi IV untuk mendukung percepatan rehabilitasi sawah, tambak, dan perkebunan, termasuk persetujuan tambahan anggaran jika diperlukan. "Kalau untuk kepentingan daerah bencana, kami tentu akan menyetujui," tegas Ketua Komisi, menunjukkan sinergi antara eksekutif dan legislatif demi kesejahteraan petani dan pemulihan pertanian nasional.