Agroplus – Kebijakan harga gabah dan beras di Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, menyebut kebijakan tersebut "aneh bin ajaib" karena dinilai tidak sesuai dengan logika ekonomi dan berpotensi merugikan petani. Kritik pedas ini dilontarkan dalam rapat kerja dengan Menteri Pertanian di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (16/7).
Rokhmin mengapresiasi langkah cepat Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menindak pelanggaran tata niaga beras. Namun, ia menekankan bahwa masalah mendasar dalam sektor pangan belum terselesaikan dan terus berulang setiap tahun. "Jika kita cerdas dan ikhlas, berarti ada yang salah dengan cara kita menangani masalah ini. Kita belum menyentuh akar masalahnya," ujarnya.

Menurutnya, akar masalah terletak pada kebijakan harga yang tidak masuk akal. Ia mencontohkan, Bulog menetapkan harga gabah kering panen (GKP) Rp 6.500 per kilogram untuk semua mutu, sementara harga eceran tertinggi (HET) beras hanya Rp 12.500 per kilogram. Padahal, konversi gabah menjadi beras hanya sekitar 50%. "Jika menjual beras Rp 13.000 per kilogram saja sudah rugi," tegasnya.
Rokhmin sepakat dengan penegakan hukum dalam tata niaga beras. Namun, ia mengingatkan pemerintah agar tidak membuat kebijakan yang bertentangan dengan prinsip ekonomi. "Kebijakan harga GKP dan HET itu aneh bin ajaib," ujarnya. Ia menambahkan, Komisi IV DPR RI saat ini adalah komisi yang cerdas dan ikhlas, yang tidak ingin menyelesaikan masalah hanya dengan pencitraan.
Rokhmin menilai Menteri Pertanian saat ini adalah sosok yang cerdas dan tulus, sehingga perlu duduk bersama untuk menyelesaikan masalah dari akarnya. Ia mengingatkan bahwa kondisi rakyat sangat memprihatinkan, dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan yang tinggi. "Kasihan bangsa ini. Pengangguran membludak. Kemiskinan mencapai 68% menurut Bank Dunia. Rakyat benar-benar menderita," katanya.
Ia menegaskan, jika pemerintah bekerja hanya sebatas pencitraan atau reaktif setelah diliput media, maka semua pihak ikut berdosa. Karena itu, ia mengajak Kementan sebagai mitra sejati untuk bicara jujur dan terbuka, demi menyelesaikan masalah secara mendalam. “Komisi IV adalah mitra sejati. Kita harus berbicara jujur dan blak-blakan. Mari kita sudahi hal-hal yang sifatnya permukaan,” pungkasnya. Verdifjord