agroplus.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami guncangan hebat pada perdagangan sesi pertama Selasa (3/11/2026). Setelah sempat menunjukkan optimisme di awal sesi, bursa saham domestik justru terjun bebas ke zona merah, mencerminkan tekanan jual yang cukup masif dari para pelaku pasar.
Hingga pukul 09.59 WIB, indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut tercatat berada di level 5.045,08. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 51,75 poin atau merosot sekitar 1,02% dibandingkan posisi sebelumnya. Fenomena ini cukup mengejutkan mengingat pergerakan awal IHSG sebenarnya menunjukkan tren positif.

Pada pembukaan pasar, IHSG sempat menguat dan bertengger di level 5.126,53, naik sekitar 29,7 poin. Bahkan, indeks sempat menyentuh titik tertinggi intrahari di level 5.143,58. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang kuat langsung menghantam pasar hanya dalam hitungan menit setelah pembukaan, memaksa indeks berbalik arah secara drastis menuju kisaran 5.100 sebelum akhirnya terus merosot tanpa perlawanan berarti.
Berdasarkan data transaksi, volume perdagangan saham tercatat mencapai 64,45 juta lot dengan nilai transaksi yang menyentuh angka Rp2,4 triliun. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi berbagai sentimen global dan domestik yang membuat investor cenderung mengambil sikap waspada.
Salah satu faktor eksternal yang menjadi sorotan adalah pelaksanaan pemilu sela di Amerika Serikat. Ketidakpastian politik di Negeri Paman Sam ini, terutama persaingan antara Partai Republik dan Demokrat dalam memperebutkan kendali Kongres, menciptakan volatilitas di pasar global. Investor cenderung menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian arah kebijakan AS ke depan.
Di sisi lain, terdapat kabar yang sebenarnya bisa menjadi angin segar bagi ekonomi Indonesia, yakni anjloknya harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent dan WTI mengalami penurunan signifikan di atas 7% menyusul adanya harapan meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah. Bagi Indonesia yang merupakan importir neto minyak, penurunan harga ini seharusnya mampu meringankan beban APBN dan menekan laju inflasi. Namun, sentimen positif ini tampaknya belum cukup kuat untuk membendung arus jual di bursa saham.
Dari sisi domestik, pasar kini tengah menanti hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Investor sangat menantikan pernyataan resmi terkait stabilitas sistem keuangan nasional serta langkah-langkah kebijakan yang akan diambil untuk merespons gejolak pasar modal dan nilai tukar rupiah.
Selain itu, data manufaktur dari China juga turut memengaruhi sentimen regional. Meskipun PMI Manufaktur China menunjukkan sedikit perlambatan, angka tersebut masih berada di zona ekspansi. Hal ini memberikan gambaran mengenai kekuatan ekonomi mitra dagang utama Indonesia di tengah dinamika pasar global yang tidak menentu.
