agroplus.co.id – Bank Indonesia (BI) kini menghadapi babak baru dalam menjalankan peran strategisnya di tengah dinamika ekonomi nasional. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa mandat yang diemban oleh bank sentral saat ini telah mengalami perluasan yang signifikan. Jika sebelumnya fokus utama BI hanya terbatas pada menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi, kini tanggung jawab tersebut merambah ke ranah yang lebih luas, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam sebuah kesempatan berdiskusi dengan para pelaku usaha, Destry menjelaskan transformasi peran BI dari masa ke masa. Ia mengenang kembali era pascakrisis moneter 1997/1998, di mana tugas bank sentral sangat spesifik dan terbatas. Pada masa itu, fokus utama BI hanyalah memastikan stabilitas rupiah; menjaga inflasi di dalam negeri dan menjaga nilai tukar terhadap mata uang asing. Namun, seiring dengan perubahan regulasi, batasan tersebut kini telah runtuh.

Perubahan fundamental ini dipicu oleh lahirnya Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) pada tahun 2023. Melalui regulasi tersebut, BI tidak hanya ditugaskan menjaga stabilitas rupiah, sistem pembayaran, serta stabilitas sistem keuangan, tetapi juga harus memastikan bahwa seluruh kebijakan tersebut mampu memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Destry menekankan bahwa BI tidak lagi bisa hanya terpaku pada pencapaian target angka semata.
"Kami tidak bisa lagi hanya sekadar mengatakan target rupiah sekian atau inflasi sekian. Kami harus berpikir, apakah kebijakan tersebut benar-benar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi atau tidak," tegas Destry.
Tantangan ini diprediksi akan semakin kompleks seiring dengan adanya aturan baru yang akan berlaku pada tahun 2026. Perluasan mandat ini mencakup kewajiban BI untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif bagi perkembangan sektor riil serta mendukung terciptanya lapangan kerja bagi masyarakat. Hal ini menandakan bahwa BI harus lebih peka terhadap denyut nadi ekonomi di tingkat akar rumput.
Menanggapi tanggung jawab yang semakin berat tersebut, Destry menegaskan bahwa Bank Indonesia tidak akan bekerja secara eksklusif atau terisolasi dari realitas sosial. Ia menepis anggapan bahwa bank sentral bekerja di dalam "menara gading" yang jauh dari permasalahan nyata masyarakat.
"BI tidak berada di awang-awang, kami bukan di menara gading," ujarnya dengan lugas.
Sebagai bentuk implementasi, BI secara aktif berkoordinasi dengan Presiden dan tim ekonomi pemerintah untuk memahami kebutuhan nyata dari sektor riil. Dalam menjalankan tugasnya, BI harus mampu melakukan manajemen kebijakan yang presisi. Destry mengibaratkan tugas ini sebagai sebuah seni, di mana bank sentral harus mampu menjaga keseimbangan yang sempurna antara menjaga stabilitas moneter dengan upaya memacu pertumbuhan ekonomi agar tetap berjalan beriringan.
