agroplus.co.id – Raksasa teknologi Indonesia, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), kembali menunjukkan taringnya di pasar modal dengan mencatatkan performa keuangan yang impresif. Perusahaan ini berhasil menutup kuartal ketiga tahun 2026 dengan raihan laba bersih mencapai Rp441 miliar. Pencapaian ini menjadi catatan sejarah penting bagi emiten teknologi tersebut karena menandai keberhasilan mereka dalam membukukan keuntungan selama tiga kuartal berturut-turut.
Lonjakan performa ini tidak hanya terlihat dari angka laba bersih semata, tetapi juga didorong oleh pertumbuhan fundamental bisnis yang sangat kuat. Pendapatan bersih perusahaan tercatat naik sebesar 17% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, hingga menyentuh angka Rp5,6 triliun. Lebih mengesankan lagi, nilai transaksi bruto atau Gross Transaction Value (GTV) inti mengalami lonjakan drastis sebesar 89% menjadi Rp194 triliun.

Pertumbuhan ini juga dibarengi dengan ekspansi basis pengguna yang aktif. Jumlah pengguna yang melakukan transaksi secara tahunan atau Annual Transacting Users (ATU) kini telah mencapai 72,5 juta orang, atau tumbuh 16% secara tahunan (year-on-year). Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem GoTo semakin solid dan semakin relevan di tengah masyarakat.
Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo, mengungkapkan bahwa hasil positif ini diraih di tengah berbagai dinamika dan tantangan pasar yang cukup berat dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu faktor kunci yang memengaruhi kinerja adalah penerapan komisi sebesar 8% pada layanan transportasi roda dua yang telah berjalan penuh selama satu kuartal ini. Dampak dari kebijakan tersebut terlihat nyata pada peningkatan EBITDA Grup yang disesuaikan, yang melonjak 84% YoY menjadi Rp950 miliar.
Selain itu, kesehatan arus kas perusahaan juga menunjukkan tren positif yang sangat signifikan. Arus kas bebas (free cash flow) Grup yang disesuaikan melesat hingga 389% YoY menjadi Rp1,21 triliun. Dari sektor e-commerce, imbalan jasa dari Tokopedia turut menyumbang pendapatan sebesar Rp235 miliar pada periode yang sama.
Melihat tren pertumbuhan yang sangat menjanjikan, manajemen GOTO memutuskan untuk bersikap optimis dengan menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk sepanjang tahun 2026. Target yang sebelumnya dipatok pada kisaran Rp3,2-3,4 triliun, kini dinaikkan menjadi Rp3,5-3,7 triliun. Sektor fintech menjadi motor utama di balik kenaikan target ini karena kinerjanya yang terus melampaui ekspektasi pasar.
Di sisi lain, bisnis On-Demand Services (ODS) juga mulai menunjukkan geliat pertumbuhan. GOTO memperlebar rentang pedoman EBITDA untuk sektor ODS menjadi Rp1,4-1,6 triliun. Dalam menetapkan angka ini, perusahaan juga tetap waspada dan mempertimbangkan potensi perubahan regulasi, termasuk aturan mengenai layanan pengantaran dari Kementerian Komunikasi dan Digital.
Secara akumulatif, sepanjang periode Januari hingga September 2026, GOTO telah membukukan pendapatan bersih sebesar Rp16,5 triliun, naik 24% YoY. Yang paling mencolok adalah transformasi dari kerugian menjadi keuntungan; jika pada sembilan bulan pertama tahun lalu perusahaan masih merugi Rp997 miliar, kini mereka berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp864 miliar.
Sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang saham, GOTO juga telah mendapatkan persetujuan untuk membatalkan 32 miliar saham tresuri. Langkah ini diperkirakan akan efektif dalam 2 hingga 3 bulan ke depan setelah memenuhi seluruh persyaratan regulasi. Selain itu, perusahaan juga telah melakukan aksi buyback sebanyak 36 miliar saham dengan total anggaran Rp985 miliar, dan masih memiliki sisa dana buyback sebesar Rp2,5 triliun yang siap digunakan di masa mendatang.
