Close Menu
    What's Hot

    Strategi Baru BI Perkuat Ekonomi Nasional

    10-10-2026 - 00.06

    Strategi Baru BRI Perkaya Pilihan Investasi

    10-10-2026 - 00.02

    Mengapa Rupiah Terus Melemah Tajam

    09-10-2026 - 23.07
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Strategi Baru BI Perkuat Ekonomi Nasional
    • Strategi Baru BRI Perkaya Pilihan Investasi
    • Mengapa Rupiah Terus Melemah Tajam
    • Asuransi dan Dana Pensiun Borong SBN
    • Rupiah Terancam Gejolak Global BI Siap Bertindak
    • Rupiah Terancam Akibat Pelarian Modal Global
    • Shubhasish Mundur dari Dewan Komisaris BMHS
    • Suku Bunga Dunia Tetap Tinggi Lama
    Sabtu, 10 Oktober 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Mengapa Rupiah Terus Melemah Tajam
    Pangan

    Mengapa Rupiah Terus Melemah Tajam

    09-10-2026 - 23.073 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    agroplus.co.id – Kondisi nilai tukar rupiah yang tengah mengalami tekanan belakangan ini memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Banyak pihak mulai mempertanyakan stabilitas ekonomi nasional di tengah fluktuasi mata uang yang terjadi. Namun, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan klarifikasi penting bahwa penyebab utama pelemahan rupiah bukanlah berasal dari faktor internal atau kondisi ekonomi di dalam negeri.

    Menurut Destry, fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih berada dalam posisi yang sangat solid. Jika menilik data terbaru, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2026 tercatat masih mampu menyentuh angka 5,29 persen. Selain itu, meskipun sempat terjadi kenaikan pada inflasi harga pangan yang fluktuatif (volatile food inflation) pada bulan September lalu, secara keseluruhan tingkat inflasi nasional masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan atau manageable.

    Mengapa Rupiah Terus Melemah Tajam
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    "Faktor yang memengaruhi rupiah itu sangat kompleks dan tidak hanya bersumber dari domestik. Jika kita melihat kondisi dalam negeri, pertumbuhan ekonomi kita sejauh ini masih sangat baik," ujar Destry dalam sebuah sesi wawancara eksklusif yang dilansir melalui agroplus.co.id.

    Destry menjelaskan bahwa "musuh besar" yang sebenarnya sedang dihadapi oleh rupiah adalah tekanan hebat dari pasar global. Salah satu fenomena yang paling mengkhawatirkan adalah terjadinya capital flight atau pelarian modal secara besar-besaran oleh investor asing. Dalam situasi ketidakpastian global, para investor cenderung menarik dana mereka dari negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, untuk dipindahkan ke aset-aset yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti dolar Amerika Serikat.

    Fenomena pelarian modal ini tidak hanya memukul nilai tukar mata uang, tetapi juga berdampak langsung pada pasar keuangan domestik. Akibatnya, terjadi arus modal keluar (outflow) yang signifikan pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Investor asing lebih memilih untuk melepas kepemilikan mereka di pasar obligasi Indonesia demi mencari keamanan di negara asal mereka.

    Selain masalah pelarian modal, ada beberapa faktor eksternal lain yang memperparah keadaan. Kekhawatiran terhadap inflasi global yang tinggi dan risiko fiskal di berbagai belahan dunia menjadi pemicu utama ketidakpastian. Kondisi ini diperburuk oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus angka di atas US$108 per barel. Ketegangan geopolitik terkait belum tercapainya kesepakatan mengenai pembukaan Selat Hormuz menjadi pemicu utama naiknya harga energi tersebut.

    Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga datang dari sisi permintaan valuta asing oleh para importir yang meningkat menjelang akhir kuartal III-2026. Meski demikian, jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan regional, pelemahan rupiah sebenarnya masih tergolong terbatas. Secara quarter-to-date (qtd), rupiah hanya mengalami depresiasi sekitar 0,67 persen, yang menunjukkan bahwa pergerakannya masih berjalan selaras dengan tren mata uang di kawasan Asia.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Strategi Baru BI Perkuat Ekonomi Nasional

    10-10-2026 - 00.06

    Strategi Baru BRI Perkaya Pilihan Investasi

    10-10-2026 - 00.02

    Asuransi dan Dana Pensiun Borong SBN

    09-10-2026 - 23.03

    Rupiah Terancam Gejolak Global BI Siap Bertindak

    09-10-2026 - 20.06

    Rupiah Terancam Akibat Pelarian Modal Global

    09-10-2026 - 20.02

    Shubhasish Mundur dari Dewan Komisaris BMHS

    09-10-2026 - 18.06
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Strategi Baru BI Perkuat Ekonomi Nasional

    agroplus.co.id – Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan komitmen penuh bank sentral dalam mentransformasi…

    Strategi Baru BRI Perkaya Pilihan Investasi

    10-10-2026 - 00.02

    Mengapa Rupiah Terus Melemah Tajam

    09-10-2026 - 23.07

    Asuransi dan Dana Pensiun Borong SBN

    09-10-2026 - 23.03
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.