agroplus.co.id – Dunia saat ini tengah berada dalam pusaran ketidakpastian ekonomi yang cukup menantang. Fenomena yang dikenal dengan istilah higher for longer atau tren suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lama kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global. Kondisi ini diprediksi akan memberikan tekanan berat, terutama bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang harus berjuang menjaga keseimbangan moneter di tengah badai ekonomi dunia.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan peringatan mengenai situasi ini. Menurutnya, ketidakpastian global yang terus berlanjut memaksa otoritas moneter untuk melakukan langkah-langkah yang lebih waspada dan berkelanjutan. Ia mengibaratkan kondisi saat ini seperti sedang melakukan lari maraton, di mana ketahanan dan strategi jangka panjang menjadi kunci utama untuk bertahan.

Ada beberapa faktor krusial yang memicu tren suku bunga tinggi ini. Destry menjelaskan bahwa inflasi global yang masih sulit dikendalikan menjadi pemicu utama. Selain itu, pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah yang terus merangkak naik serta sikap agresif atau hawkish dari bank-bank sentral di negara-negara maju turut memperkeruh suasana.
"Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah kondisi global. Hal inilah yang memaksa kita untuk terus berlari maraton karena ketidakpastiannya masih sangat tinggi. Faktor geopolitik berdampak langsung pada kenaikan harga minyak, yang kemudian memicu inflasi meningkat dan memperlebar defisit fiskal," ujar Destry dalam sebuah diskusi ekonomi baru-baru ini.
Salah satu contoh nyata yang dapat dilihat adalah situasi di Amerika Serikat. Destry menyoroti bagaimana Amerika Serikat berjuang keras menekan inflasi agar kembali ke target sekitar 2 persen, sementara realitanya angka tersebut masih berada di atas 3 persen. Di negara maju lainnya, inflasi bahkan menyentuh angka 4,6 persen dari target 3 persen. Kondisi ini diperparah dengan besarnya pengeluaran fiskal di AS yang menyebabkan defisit mencapai hampir 6 persen.
Tingginya defisit ini memaksa pemerintah AS menerbitkan lebih banyak obligasi. Melimpahnya pasokan obligasi di pasar kemudian mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah. Untuk meredam kenaikan yield tersebut sekaligus menjinakkan inflasi, bank sentral Amerika Serikat (The Fed) terpaksa mengambil kebijakan menaikkan suku bunga acuan.
Dampak domino dari kebijakan ini sangat terasa bagi negara berkembang. Ketika suku bunga di negara maju melonjak, investor cenderung menarik modal mereka dari pasar negara berkembang untuk dipindahkan kembali ke negara asal mereka yang dianggap lebih aman. Fenomena ini disebut sebagai capital flight to quality.
"Penguatan dolar AS dan kenaikan bond yield menyebabkan investor mencari aset yang lebih aman. Akibatnya, terjadi aliran modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampak langsungnya sangat terasa pada stabilitas pasar keuangan kita," pungkas Destry.
