Bos KETR Borong Saham Rp200, Harga Pasar Rp900-an? Ini Dia Kejutannya!
Agroplus – Dunia pasar modal kembali dihebohkan dengan manuver tak terduga dari PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR). Vidcy Octory, salah satu direktur perusahaan, baru-baru ini melakukan pembelian saham KETR dalam jumlah fantastis, mencapai 48 juta lembar. Yang membuat transaksi ini menjadi sorotan adalah harga pembeliannya yang hanya Rp200 per saham, jauh di bawah harga pasar yang saat itu berada di kisaran Rp900-an. Kejadian ini berlangsung tak lama setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menyoroti pergerakan saham KETR karena aktivitas pasar yang tidak biasa (Unusual Market Activity atau UMA).

Berdasarkan informasi yang dirilis BEI, transaksi besar ini terjadi pada tanggal 14 September 2026. Vidcy Octory mengakuisisi saham tersebut dari Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara, dengan total nilai transaksi mencapai Rp9,7 miliar. Pasca pembelian ini, kepemilikan Vidcy di KETR melonjak menjadi 1,70%, sementara porsi Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara menyusut menjadi 54,83%. Perlu digarisbawahi, pada hari yang sama, saham KETR dibuka di level Rp955 per saham dan ditutup pada Rp905 per saham. Perbedaan harga yang mencolok ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan investor dan pengamat pasar.
Sebelum transaksi mencurigakan ini, BEI memang telah memasukkan KETR dalam daftar pantauan UMA sejak Jumat, 11 September 2026. Pemantauan ini dilakukan karena adanya indikasi kenaikan harga saham yang dianggap tidak wajar dan bergerak di luar kebiasaan. Langkah BEI ini merupakan bagian dari upaya perlindungan terhadap investor, khususnya para pemegang saham KETR, agar mereka dapat membuat keputusan investasi yang lebih cermat dan berdasarkan informasi yang memadai.
Meskipun demikian, BEI menegaskan bahwa pengumuman UMA tidak serta merta mengindikasikan adanya pelanggaran hukum di bidang pasar modal. "Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini," demikian pernyataan resmi manajemen BEI. Di tengah gejolak ini, pergerakan saham KETR pada pembukaan perdagangan hari ini (mengacu pada tanggal rilis berita asli) menunjukkan penurunan 5,76% ke level Rp900 per saham. Namun, jika dilihat dalam rentang satu bulan terakhir, saham emiten kontraktor ini justru melonjak 57,89%, meski secara year to date masih mencatatkan penurunan 17,43%.
Menyikapi situasi ini, BEI mengimbau para investor untuk senantiasa berhati-hati. Investor diharapkan untuk aktif memperhatikan respons emiten terhadap permintaan konfirmasi dari Bursa, mencermati kinerja perusahaan dan keterbukaan informasinya, serta mengkaji ulang setiap rencana aksi korporasi yang mungkin belum mendapat persetujuan RUPS. Pertimbangkanlah berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum mengambil keputusan investasi. Transaksi saham KETR yang dilakukan di bawah harga pasar ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak akan dinamika dan potensi risiko di pasar modal.
