Peluang Emas! Modal Usaha Wanita, Bunga Cuma 8%!
Agroplus – Angin segar berembus bagi para srikandi penggerak ekonomi di sektor usaha mikro. Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tengah merancang sebuah skema kredit program yang revolusioner, khusus ditujukan bagi perempuan pelaku usaha mikro, dengan tawaran bunga super kompetitif: hanya 8% flat per tahun. Ini adalah langkah konkret pemerintah untuk membuka keran pembiayaan yang lebih terjangkau, memastikan para ibu-ibu tangguh memiliki akses modal untuk mengembangkan potensi usahanya, termasuk di bidang pertanian dan pangan.

Juru bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menjelaskan bahwa program kredit anyar ini hadir sebagai pelengkap empat skema kredit program yang sudah berjalan sebelumnya, yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Usaha Alsintan (Alat dan Mesin Pertanian), Kredit Industri Padat Karya (KIPK), dan Kredit Program Perumahan (KPP). “Kami ingin memastikan bahwa ibu-ibu, baik yang baru merintis, sedang giat berusaha, maupun yang berencana kembali berbisnis, dapat mengakses pembiayaan dengan bunga yang jauh lebih ringan,” tutur Haryo dalam siaran pers yang diterima agroplus.co.id pada Rabu (1/7/2026).
Ia menambahkan, penurunan suku bunga menjadi 8% flat per tahun ini merupakan terobosan signifikan, mengingat sebelumnya pembiayaan serupa melalui skema PNM Mekaar memiliki bunga di kisaran 18-25%. Dengan plafon pembiayaan hingga Rp 15 juta per debitur dan tenor fleksibel antara 6 hingga 24 bulan, program ini diharapkan menjadi solusi nyata bagi kebutuhan modal kerja mereka, mulai dari pedagang kecil hingga pengolah hasil pertanian rumahan.
Komitmen pemerintah untuk menyukseskan program ini tidak main-main. Untuk mendukung implementasinya, berbagai regulasi pendukung sedang digodok, disertai dengan alokasi dukungan fiskal berupa subsidi bunga atau subsidi marjin yang fantastis, mencapai Rp2,62 triliun khusus untuk tahun anggaran 2026. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memberdayakan perempuan pelaku usaha mikro, yang seringkali menjadi tulang punggung ekonomi keluarga dan daerah, bahkan dalam menjaga ketahanan pangan lokal.
Haryo juga memaparkan progres penyaluran kredit program yang telah berjalan. Hingga 28 Juni 2026, total realisasi penyaluran Kredit Program telah menyentuh angka Rp167,97 triliun, atau sekitar 49,20% dari target ambisius tahun 2026 sebesar Rp341,39 triliun. Pencapaian ini didominasi oleh performa gemilang Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang berhasil menyalurkan Rp147,70 triliun kepada 2,32 juta debitur, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang tetap terkendali di angka 2,39%. Angka ini setara dengan 50,83% dari target plafon KUR tahun 2026.
Sementara itu, Kredit Alsintan mencatat realisasi Rp71,10 miliar, Kredit Industri Padat Karya (KIPK) Rp91,93 miliar, dan Kredit Program Perumahan (KPP) sebesar Rp17,74 triliun. Data ini menunjukkan bahwa program-program pembiayaan pemerintah berjalan efektif dan diharapkan skema baru untuk perempuan pelaku usaha mikro ini akan semakin memperkuat ekosistem kewirausahaan di Indonesia, khususnya bagi mereka yang berkecimpung di sektor-sektor vital seperti pertanian dan UMKM pangan.
