Agroplus – Bank Sentral Jepang (BoJ) kembali membuat gebrakan signifikan di pasar keuangan global. Pada Selasa, 16 Juni 2026, BoJ resmi menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, sebuah langkah krusial dalam upaya normalisasi kebijakan moneter mereka. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang dipicu oleh guncangan energi, terutama akibat konflik di Timur Tengah.
Kenaikan suku bunga kebijakan jangka pendek ini membawa angka dari 0,75% menjadi 1,00%, mengembalikan biaya pinjaman ke tingkat yang belum pernah terlihat sejak tahun 1995. Ini merupakan kenaikan pertama BoJ di tahun 2026, melanjutkan tren pengetatan kebijakan yang juga diterapkan oleh bank sentral besar lainnya, seperti Bank Sentral Eropa (ECB), dalam memerangi inflasi yang merajalela.

Dalam pernyataan resminya, BoJ mengakui bahwa risiko ekonomi Jepang sempat memburuk akibat konflik di Timur Tengah. Namun, dampak negatif tersebut kini telah berkurang berkat langkah-langkah pemerintah dalam menekan beban rumah tangga dari tingginya biaya bahan bakar dan kemajuan dalam pengadaan pasokan energi alternatif. Meski demikian, prospek harga tetap menjadi perhatian utama, mengingat perusahaan-perusahaan terlihat meneruskan kenaikan biaya minyak satu sama lain dengan "kecepatan yang relatif cepat," yang berpotensi mendorong harga konsumen di berbagai sektor. BoJ menegaskan, "Mempertimbangkan bahwa ekspektasi inflasi jangka menengah dan panjang juga terus meningkat, ada risiko inflasi yang mendasarinya menyimpang di atas target harga kami."
Keputusan kenaikan suku bunga ini tidak bulat, disetujui dengan suara 7-1. Gubernur BoJ, Kazuo Ueda, tidak dapat memberikan suara karena sedang menjalani perawatan di rumah sakit akibat infeksi kista hati. Toichiro Asada, anggota dewan yang baru bergabung April lalu, menjadi satu-satunya yang menentang. Asada berpendapat bahwa risiko penurunan pertumbuhan ekonomi akibat konflik Timur Tengah lebih besar daripada risiko inflasi.
Pasar keuangan langsung merespons keputusan BoJ. Indeks Nikkei 225 melonjak 1% dan mencetak rekor tertinggi baru. Sementara itu, nilai tukar yen terhadap dolar AS menguat 0,1% menjadi 160,215 per dolar AS, dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 3,5 basis poin menjadi 2,61%. Hirofumi Suzuki, kepala strategi FX di SMBC, menyoroti bahwa tidak adanya proposal kenaikan suku bunga 50 basis poin menunjukkan BoJ kemungkinan akan menghindari kenaikan tajam. "BOJ kemungkinan akan terus menaikkan suku bunga secara bertahap sekitar setiap enam bulan sekali hingga satu tahun," ujarnya, memberikan sinyal positif bagi harga aset berisiko.
Selain kenaikan suku bunga acuan, BoJ juga mengumumkan penghentian program pengurangan obligasinya mulai April 2027. Namun, mereka akan tetap melanjutkan pembelian obligasi pemerintah Jepang (JGB) sekitar 2 triliun yen per bulan, menunjukkan pendekatan yang hati-hati dalam menyeimbangkan pengetatan moneter.
Kini, semua mata tertuju pada Wakil Gubernur BoJ, Shinichi Uchida, yang akan memimpin konferensi pers menggantikan Ueda. Para investor dan analis berharap mendapatkan petunjuk mengenai kecepatan dan waktu kenaikan suku bunga di masa depan. Masato Koike, ekonom senior di Sompo Institute Plus, berkomentar, "Saya mengharapkan pesan hawkish hari ini. Tetapi BoJ tampaknya berniat untuk menghindari mengatakan apa pun yang dapat dianggap sebagai komitmen yang kuat, jadi saya tidak berpikir itu akan memberikan banyak petunjuk konkret." Konflik di Timur Tengah masih akan terus memengaruhi jalur kebijakan BoJ, baik melalui tekanan inflasi dari biaya minyak maupun dampaknya terhadap ekonomi yang sangat bergantung pada impor bahan bakar. Analis memperkirakan inflasi konsumen inti akan kembali meningkat di atas target 2% BoJ pada akhir tahun ini, setelah sempat tergelincir di bawah level karena subsidi pemerintah.
BoJ sendiri telah mempertahankan kebijakan stabil pada pertemuan April lalu, namun secara tajam merevisi perkiraan harganya dan menekankan kewaspadaan terhadap risiko inflasi yang melampaui target. Sinyal-sinyal hawkish dari BoJ sejak saat itu telah membuat pasar hampir sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga bulan ini. Sebuah survei Reuters bahkan memproyeksikan BoJ akan kembali menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,25% pada kuartal IV-2026, menandakan era baru kebijakan moneter yang lebih ketat di Negeri Sakura.
