Close Menu
    What's Hot

    Gawat! Minyak Tembus US$107, Pangan Terancam?

    27-04-2026 - 10.06

    Cianjur Dulu: Kopi Melimpah, Rakyat Menderita, Bupati Mewah!

    26-04-2026 - 10.06

    25-04-2026 - 10.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Gawat! Minyak Tembus US$107, Pangan Terancam?
    • Cianjur Dulu: Kopi Melimpah, Rakyat Menderita, Bupati Mewah!
    • Pensiun Dini dari OnlyFans, Raup Rp1 Triliun!
    • WIKA Lolos Badai! Investor Percaya, Sektor Pertanian Untung?
    • Kursi Direksi Timah Bergeser, Ini Tujuan Barunya!
    • BEI Buka Kartu Soal MSCI: Saham Ini Bakal Didepak!
    • Saham CASH Meroket 123%: BEI Pasang Mata Ketat!
    Senin, 27 April 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Gawat! Minyak Tembus US$107, Pangan Terancam?
    Pangan

    Gawat! Minyak Tembus US$107, Pangan Terancam?

    27-04-2026 - 10.063 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    Agroplus – Kabar mengejutkan datang dari pasar komoditas global. Harga minyak dunia kembali menunjukkan lonjakan signifikan pada perdagangan Senin pagi (27/4/2026), menembus level US$107 per barel. Situasi ini, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan hambatan pada jalur energi vital Selat Hormuz, bukan hanya mengancam stabilitas ekonomi makro, tetapi juga berpotensi memberikan dampak berantai pada sektor-sektor krusial seperti pertanian. Investor kini kembali memasang premi risiko tinggi terhadap komoditas energi, mengindikasikan kekhawatiran akan pasokan global.

    Menurut data terbaru dari Refinitiv per pukul 09.20 WIB, harga kontrak Brent tercatat di angka US$107,09 per barel, melonjak tajam dari penutupan sebelumnya di US$105,33 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penguatan, mencapai US$95,8 per barel dari US$94,4 pada perdagangan terakhir. Kenaikan ini melanjutkan tren reli agresif yang terjadi sepanjang pekan lalu. Dalam kurun waktu seminggu, Brent telah melesat lebih dari 16%, dari US$90,38 pada 17 April menjadi US$105,33 pada 24 April. Senada, WTI juga melonjak sekitar 12,6%, dari US$83,85 menjadi US$94,4. Lompatan harga secepat ini jarang terjadi, kecuali jika pasar dihadapkan pada gangguan pasokan skala besar yang berdampak langsung pada rantai pasok global, termasuk logistik untuk distribusi produk pertanian.

    Gawat! Minyak Tembus US$107, Pangan Terancam?
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Sentimen pendorong utama di balik kenaikan ini adalah kegagalan upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan Reuters mengindikasikan bahwa harapan akan perundingan damai meredup setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana kunjungan utusan AS ke Islamabad. Ironisnya, di saat yang bersamaan, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, justru tiba di Pakistan, mempersempit ruang negosiasi yang diharapkan pasar. Selain itu, pasar juga menyoroti kondisi arus kapal di Selat Hormuz. Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan bahwa hanya satu kapal tanker produk minyak yang berhasil memasuki Teluk pada Minggu. Angka ini sangat minim untuk jalur yang dikenal sebagai urat nadi perdagangan energi dunia, menandakan bahwa pasokan fisik masih tertahan dan rantai distribusi belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius bagi sektor pertanian yang sangat bergantung pada kelancaran transportasi dan distribusi bahan bakar untuk operasional dan pengiriman hasil panen.

    Analis IG Market, Tony Sycamore, berpendapat bahwa tekanan kini berada di pihak Teheran. Jika ekspor terus tersendat dan kapasitas penyimpanan minyak Iran penuh, ada risiko serius bahwa Iran akan terpaksa memangkas produksi dari ladang-ladang minyak lamanya. Risiko semacam ini mendorong para trader untuk membeli kontrak minyak lebih awal sebagai strategi lindung nilai. Di tengah ketidakpastian ini, Goldman Sachs turut merevisi proyeksi harga minyak untuk kuartal IV-2026. Bank investasi terkemuka itu kini memprediksi harga Brent di US$90 per barel dan WTI di US$83 per barel, dengan alasan potensi penurunan produksi di Timur Tengah yang lebih besar dari perkiraan semula. Goldman Sachs juga menyoroti ancaman kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) olahan serta potensi kelangkaan produk energi secara global, yang secara tidak langsung akan meningkatkan biaya operasional di sektor pertanian, mulai dari pengolahan lahan hingga pengiriman produk ke pasar.

    Melihat pola pergerakan harga dalam dua pekan terakhir, volatilitas pasar energi bergerak sangat agresif. Pada 13 April, harga Brent sempat menyentuh US$99,36, kemudian anjlok ke US$90,38 pada 17 April, sebelum akhirnya melonjak tajam hingga di atas US$107 pada pagi ini. Pola serupa juga terjadi pada WTI, yang sempat menyentuh US$83,85 lalu bangkit kembali mendekati US$96. Fluktuasi ekstrem ini menciptakan ketidakpastian yang tinggi bagi pelaku usaha, termasuk petani dan distributor produk pertanian, yang harus menghadapi biaya logistik dan produksi yang tidak stabil.

    Follow on Google News
    Sasmito

      gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

      Related Posts

      Cianjur Dulu: Kopi Melimpah, Rakyat Menderita, Bupati Mewah!

      26-04-2026 - 10.06

      25-04-2026 - 10.06

      Pensiun Dini dari OnlyFans, Raup Rp1 Triliun!

      24-04-2026 - 10.06

      WIKA Lolos Badai! Investor Percaya, Sektor Pertanian Untung?

      23-04-2026 - 10.06

      Kursi Direksi Timah Bergeser, Ini Tujuan Barunya!

      22-04-2026 - 10.06

      BEI Buka Kartu Soal MSCI: Saham Ini Bakal Didepak!

      21-04-2026 - 10.06
      Add A Comment
      Leave A Reply Cancel Reply

      Don't Miss
      Pangan

      Gawat! Minyak Tembus US$107, Pangan Terancam?

      Agroplus – Kabar mengejutkan datang dari pasar komoditas global. Harga minyak dunia kembali menunjukkan lonjakan…

      Cianjur Dulu: Kopi Melimpah, Rakyat Menderita, Bupati Mewah!

      26-04-2026 - 10.06

      25-04-2026 - 10.06

      Pensiun Dini dari OnlyFans, Raup Rp1 Triliun!

      24-04-2026 - 10.06
      Top Posts

      Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

      09-04-2025 - 07.38

      Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

      09-04-2025 - 07.38

      Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

      09-04-2025 - 08.22

      Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

      09-04-2025 - 10.06
      agroplus
      © 2026 KR Network

      Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.