Agroplus – Di tengah riuhnya kabar konflik geopolitik yang memanas antara Iran dan Israel, melibatkan pula Amerika Serikat, industri perbankan nasional tak tinggal diam. Mereka bergerak cepat memperkuat benteng pertahanan ekonomi melalui pengetatan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian. Gejolak ini, yang berpotensi melambungkan harga komoditas strategis seperti minyak mentah, tentu saja memiliki efek domino hingga ke sektor pertanian, mempengaruhi biaya logistik dan produksi. Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), menegaskan bahwa meski badai eksternal mengancam, fondasi perbankan domestik masih kokoh, ditopang oleh pertumbuhan kredit yang terjaga, likuiditas memadai, dan permodalan yang kuat.
"Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan. Ini bukan hanya soal minyak di SPBU, tapi juga biaya operasional petani, pupuk, dan distribusi hasil panen," ujar Hery, menekankan bahwa dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset. Stabilitas perbankan adalah kunci agar roda ekonomi, termasuk sektor pertanian, tetap berputar lancar.

Perbanas mencatat, serangkaian langkah mitigasi telah dan terus diperkuat oleh industri perbankan di Tanah Air. Salah satunya adalah melalui stress test sektoral, yang menargetkan sektor-sektor paling sensitif terhadap kenaikan biaya energi, seperti transportasi, logistik, dan manufaktur. Bayangkan dampaknya pada biaya pengiriman bibit, pupuk, atau hasil panen dari desa ke kota. Selain itu, sistem peringatan dini (early warning system) juga diperkuat untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas kredit, memastikan tidak ada petani atau pelaku usaha pertanian yang tiba-tiba kesulitan akses modal.
Hery melanjutkan, perbankan juga meningkatkan disiplin penyaluran kredit melalui pendekatan risk-based pricing, memastikan penyaluran dana tepat sasaran dan berkelanjutan, termasuk untuk pembiayaan sektor pertanian. Mereka juga menjaga kecukupan likuiditas melalui optimalisasi rasio liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NFSR), yang krusial agar dana untuk investasi jangka panjang di sektor pangan tetap tersedia. Tak ketinggalan, pengelolaan eksposur nilai tukar dilakukan secara lebih konservatif melalui strategi lindung nilai dan pengendalian posisi devisa neto, penting untuk menstabilkan harga impor alat pertanian atau bahan baku pakan.
"Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas, khususnya di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," tambah Hery. Dengan bauran kebijakan yang komprehensif ini, industri perbankan diharapkan tetap tangguh dan mampu menjadi pilar penopang pertumbuhan ekonomi domestik, termasuk dalam menjaga ketahanan pangan dan mendukung para petani, meskipun tekanan eksternal berpotensi meningkat dalam jangka pendek hingga menengah. Ini adalah komitmen untuk memastikan bahwa di tengah badai sekalipun, sektor vital seperti pertanian tetap mendapatkan dukungan penuh dari sistem keuangan nasional.
