agroplus.co.id – Dunia pasar modal tanah air mendadak riuh setelah munculnya kabar transaksi raksasa di pasar negosiasi yang melibatkan salah satu emiten batu bara terbesar, PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Nilai transaksi yang menembus angka fantastis sebesar Rp 26,10 triliun ini menjadi sorotan tajam para pelaku pasar, terutama karena adanya keterlibatan nama besar di balik perusahaan tersebut.
Transaksi jumbo ini tercatat terjadi pada perdagangan sesi pertama, Rabu (7/10/2026). Angka tersebut menjadikannya sebagai transaksi terbesar di pasar negosiasi sepanjang hari itu. Kabar ini muncul di tengah kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang mengalami tekanan. Pada akhir sesi pertama, IHSG terpantau merosot ke level 6.158,78, atau turun sekitar 34,145 poin atau 0,551%. Menariknya, pergerakan saham BYAN juga turut memberikan tekanan pada laju indeks nasional yang berada di zona merah.

Spekulasi mengenai siapa aktor di balik transaksi ini pun langsung berkembang pesat. Berdasarkan keterbukaan informasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat indikasi kuat mengenai penambahan kepemilikan saham oleh PT Jhonlin Baratama. Perusahaan ini dikenal sebagai entitas milik pengusaha ternama Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam.
Manajemen BYAN secara resmi mengonfirmasi adanya perubahan dalam Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS). Dalam laporan terbaru, jumlah saham dalam perjanjian tersebut mengalami peningkatan, dari yang semula berjumlah 10.000.000.500 saham biasa menjadi 10.084.088.370 saham. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang telah ditandatangani sebelumnya pada pertengahan September 2026.
Secara kronologis, Dato’ Low Tuck Kwong dan Elaine Low selaku pemilik lama telah menandatangani PJBS dengan PT Jhonlin Baratama sebagai pembeli pada 16 September 2026. Tak lama berselang, tepatnya pada 1 Oktober 2026, kedua belah pihak kembali menandatangani perubahan atas perjanjian tersebut, yang kemudian memicu lonjakan volume transaksi di pasar negosiasi.
Meski nilai transaksinya sangat masif dan memicu volatilitas harga, pihak manajemen BYAN memberikan klarifikasi untuk menenangkan para investor. Manajemen menegaskan bahwa perubahan struktur kepemilikan ini tidak akan membawa dampak negatif yang signifikan terhadap jalannya perusahaan.
"Kejadian tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif yang dapat mengganggu kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha Perseroan," tulis pernyataan resmi manajemen pada Rabu (7/10/2026).
Namun, pasar tampaknya bereaksi berbeda terhadap berita ini. Pada perdagangan sesi kedua, harga saham emiten milik Low Tuck Kwong ini justru mengalami koreksi tajam. Hingga pukul 14.22 WIB, harga saham BYAN terpantau merosot ke level Rp12.575 per saham, atau turun sebesar 6,51% dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp13.450. Walaupun harga sahamnya terkoreksi, nilai kapitalisasi pasar BYAN tetap berada di angka yang sangat besar, yakni mencapai Rp419,17 triliun.
