agroplus.co.id – PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) tengah menghadapi situasi keuangan yang kontradiktif. Di satu sisi, raksasa konstruksi pelat merah ini berhasil mencatatkan lonjakan pendapatan yang sangat signifikan pada periode sembilan bulan pertama tahun 2026. Namun di sisi lain, performa finansial perusahaan justru masih terperangkap dalam zona merah dengan kerugian yang belum juga berakhir.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang dirilis hingga 30 September 2026, Waskita mencatatkan rugi bersih sebesar Rp2,87 triliun yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Meski angka kerugian ini terlihat sedikit membaik jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp3,17 triliun, namun beban finansial perusahaan masih menjadi tantangan besar. Penurunan rugi bersih ini secara proporsional juga berdampak pada rugi per saham yang kini berada di angka Rp99,70, turun dari sebelumnya Rp110,21.

Jika menilik dari sisi pendapatan, Waskita sebenarnya menunjukkan geliat pertumbuhan yang impresif. Perusahaan berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp8,13 triliun, atau melonjak tajam sebesar 53,73% dibandingkan periode sembilan bulan pertama tahun 2025 yang hanya sebesar Rp5,29 triliun. Motor utama pertumbuhan ini berasal dari sektor jasa konstruksi yang meroket 71,46% menjadi Rp6,45 triliun. Selain itu, pendapatan dari sektor jalan tol juga memberikan kontribusi positif dengan kenaikan 14,93% menjadi Rp987,74 miliar.
Menariknya, Kementerian Pekerjaan Umum muncul sebagai penyumbang pendapatan terbesar bagi Waskita. Kontribusi dari kementerian ini melonjak drastis hingga lebih dari empat kali lipat dibandingkan tahun lalu, dengan total nilai mencapai Rp3,91 triliun.
Namun, kegembiraan atas kenaikan pendapatan tersebut sirna saat melihat margin keuntungan. Lonjakan pendapatan ternyata tidak dibarengi dengan efisiensi biaya. Beban pokok pendapatan justru membengkak menjadi Rp7,17 triliun, yang mengakibatkan laba bruto perusahaan terkoreksi turun 2,09% menjadi Rp959,44 miliar. Akibatnya, margin laba kotor menyusut cukup dalam menjadi 11,81% dari sebelumnya 18,54%.
Kondisi neraca keuangan Waskita juga menunjukkan tekanan yang cukup berat. Meskipun total aset tumbuh tipis menjadi Rp73,07 triliun, total liabilitas atau kewajiban justru naik menjadi Rp72,03 triliun. Hal ini memicu anjloknya total ekuitas hingga 71,71%. Bahkan, ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat negatif sebesar Rp3,34 triliun.
Manajemen Waskita mengakui bahwa akumulasi defisit perusahaan telah menyentuh angka Rp20,80 triliun. Untuk mengatasi badai finansial ini, perusahaan tengah menjalankan delapan langkah strategis penyehatan keuangan. Langkah tersebut mencakup divestasi aset jalan tol secara bertahap, optimalisasi penjaminan pemerintah, hingga restrukturisasi utang secara menyeluruh baik di tingkat induk maupun anak perusahaan. Hingga saat ini, proses restrukturisasi obligasi dan pembayaran beberapa tranche utang terus dilakukan guna memperbaiki struktur permodalan perusahaan di masa mendatang.
