agroplus.co.id – Kekhawatiran publik mengenai dampak fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap beban utang negara akhirnya mendapatkan jawaban tegas dari pemerintah. Di tengah dinamika pasar keuangan global yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif, pemerintah memastikan bahwa stabilitas fiskal tetap terjaga dan risiko gagal bayar akibat tekanan mata uang asing dapat diminimalisir.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Suminto, menjelaskan bahwa struktur utang pemerintah telah dirancang sedemikian rupa untuk memitigasi risiko nilai tukar. Berdasarkan data terbaru hingga semester pertama tahun 2026, total utang pemerintah tercatat mencapai angka Rp10.293,69 triliun, atau setara dengan 41,26% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menariknya, mayoritas dari total kewajiban tersebut tidak menggunakan mata uang asing. Suminto memaparkan bahwa sebanyak 70,2% dari total utang pemerintah menggunakan denominasi rupiah. Sementara itu, porsi utang dalam bentuk valuta asing (valas) hanya menyentuh angka 29,8%. Dengan komposisi yang didominasi oleh mata uang domestik, pemerintah merasa optimistis bahwa gejolak dolar AS tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap total beban utang nasional.
"Utang dalam rupiah mencapai 70,2% dan dalam valas sebesar 29,8%, sehingga risiko nilai tukar tetap dapat kita jaga dengan baik," ujar Suminto dalam keterangannya pada Jumat (9/10/2026).
Lebih lanjut, pemerintah juga memiliki strategi cadangan untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang yang jatuh tempo. Selain mengandalkan mata uang rupiah, pemerintah dapat memanfaatkan pendapatan negara yang masuk dalam bentuk valuta asing. Sumber pendapatan ini berasal dari sektor pajak serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang diperoleh dari berbagai transaksi internasional yang menggunakan dolar AS. Hal ini menjadi bantalan tambahan bagi kas negara dalam menghadapi kewajiban pembayaran utang luar negeri.
Jika menilik komposisi utang valas secara lebih mendalam, pemerintah secara konsisten menjaga profil risiko portofolio berdasarkan denominasi mata uangnya. Pada tahun 2025, penggunaan valas didominasi oleh dolar AS dengan porsi sebesar 19,81%. Sisanya tersebar ke dalam beberapa mata uang dunia lainnya, seperti euro sebesar 5,94%, yen Jepang sebesar 2,71%, dan mata uang lainnya sebesar 0,5%.
Kondisi pasar terkini menunjukkan adanya sedikit penguatan pada nilai tukar rupiah. Meskipun masih bergerak di kisaran atas Rp17.800 per dolar AS, rupiah sempat menunjukkan tren positif. Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka pada level Rp17.855/US$, mengalami penguatan tipis sebesar 0,20% dibandingkan penutupan sebelumnya. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi indikator kekuatan mata uang Amerika terhadap enam mata uang utama dunia juga terpantau melemah ke posisi 101,988.
