agroplus.co.id – Emiten perhiasan ternama, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat struktur permodalan dan memperluas kapasitas produksinya. Perusahaan berencana melakukan aksi korporasi berupa penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau yang lebih dikenal dengan istilah private placement. Langkah ambisius ini ditujukan untuk mengumpulkan dana segar guna mempertebal stok bahan baku emas.
Berdasarkan informasi keterbukaan yang dirilis di Bursa Efek Indonesia (BEI), HRTA berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 460.526.240 lembar saham baru. Jika ditotal, jumlah saham yang akan diterbitkan tersebut setara dengan maksimal 10 persen dari seluruh total saham yang telah disetor penuh oleh perseroan saat ini. Setiap lembar saham baru tersebut akan memiliki nilai nominal sebesar Rp100.

Rencana besar ini tidak akan langsung dieksekusi dalam waktu dekat. Perseroan terlebih dahulu harus mendapatkan restu dari para pemegang saham melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Independen. Agenda penting tersebut dijadwalkan akan digelar pada 16 Oktober 2026 mendatang. Persetujuan dari para pemegang saham menjadi kunci utama sebelum HRTA melangkah ke tahap berikutnya dalam skema private placement ini.
Tujuan utama dari perolehan dana hasil private placement ini sangat spesifik, yakni untuk mendukung kebutuhan modal kerja. Fokus utamanya adalah melakukan pengadaan bahan baku emas, baik dalam bentuk butiran (granule) maupun batangan (bar). Dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah, HRTA diharapkan dapat terus memenuhi permintaan pasar akan produk perhiasan dan emas yang terus meningkat.
Menariknya, dalam proses pengadaan bahan baku tersebut, HRTA berkomitmen untuk menjaga transparansi dan kepatuhan regulasi. Perseroan menegaskan bahwa pembelian emas akan dilakukan melalui pihak-pihak yang tidak memiliki hubungan afiliasi. Selain itu, para pemasok harus terdaftar secara resmi dalam basis data MinerbaOne. Platform digital terpadu ini merupakan instrumen milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang berfungsi untuk mengawasi serta mengatur seluruh aktivitas di sektor pertambangan mineral dan batu bara di Indonesia.
Setelah bahan baku emas tersebut berhasil didapatkan, HRTA akan segera mengolahnya menjadi berbagai produk perhiasan bernilai tinggi yang menjadi lini bisnis utama mereka. Terkait detail teknis seperti volume pembelian, nilai transaksi, hingga waktu eksekusi, perusahaan menyatakan akan menentukannya kemudian. Keputusan tersebut akan diambil secara fleksibel dengan mempertimbangkan dinamika harga pasar, kualitas bahan baku, serta faktor-faktor relevan lainnya yang dapat menguntungkan perseroan.
Menanggapi rencana ekspansi ini, pasar merespons dengan positif. Pergerakan harga saham HRTA terpantau mengalami penguatan sebesar 1,99 persen ke level Rp2.050 pada perdagangan terakhir pukul 14.18 WIB. Dengan kenaikan tersebut, kapitalisasi pasar perusahaan kini menyentuh angka Rp9,39 triliun, mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang perusahaan di industri emas.
