agroplus.co.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di lantai bursa kembali menunjukkan tren negatif pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Meskipun sempat mengalami tekanan hebat dengan koreksi yang sempat menyentuh angka lebih dari 2 persen, indeks akhirnya mampu sedikit bertahan dan menutup perdagangan di zona merah dengan penurunan tipis.
IHSG tercatat melandai sebesar 26,16 poin atau turun 0,43 persen ke level 6.121,70. Kondisi pasar yang cenderung lesu terlihat dari nilai transaksi yang tidak terlalu atraktif, yakni hanya menyentuh angka Rp13,24 triliun. Secara volume, sebanyak 38,24 miliar saham telah berpindah tangan dengan frekuensi perdagangan mencapai 1,80 juta kali.

Sentimen pasar yang kurang bergairah ini tercermin dari dominasi saham-saham yang mengalami pelemahan. Tercatat sebanyak 373 emiten ditutup di zona merah, sementara 303 saham lainnya berhasil mencatatkan penguatan. Di sisi lain, sebanyak 118 saham terpantau stagnan atau tidak mengalami perubahan harga sama sekali.
Kondisi pasar yang sedang tertekan ini juga dibarengi dengan aksi jual masif oleh investor asing. Berdasarkan data pasar, investor mancanegara mencatatkan net sell atau penjualan bersih yang cukup fantastis, yakni mencapai Rp777,18 miliar. Jika dirinci, tekanan jual ini berasal dari pasar reguler sebesar Rp536,70 miliar, serta pasar negosiasi dan tunai sebesar Rp240,49 miliar.
Namun, di balik gelombang aksi jual tersebut, terdapat fenomena menarik yang patut dicermati oleh para pelaku pasar. Meski indeks secara keseluruhan merosot, ternyata ada sejumlah emiten yang justru menjadi incaran para investor asing. Fenomena net foreign buy atau pembelian bersih oleh asing pada saham-saham tertentu menunjukkan bahwa investor global masih melihat adanya potensi nilai atau peluang "belanja murah" di tengah koreksi pasar.
Berdasarkan data dari Stockbit, terdapat sepuluh saham yang justru diborong oleh investor asing saat IHSG sedang mengalami tekanan. Kehadiran aliran dana asing ke saham-saham pilihan ini sering kali dianggap sebagai sinyal positif bahwa fundamental perusahaan tersebut masih kuat atau harga sahamnya sudah mencapai level yang sangat menarik untuk dikoleksi.
Para analis menyarankan agar investor ritel tetap waspada dan tidak terburu-buru melakukan aksi beli secara masif saat pasar sedang bergejolak. Memperhatikan ke mana arah aliran dana asing (foreign flow) dapat menjadi salah satu strategi untuk memetakan saham mana yang memiliki daya tahan kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Mengamati daftar 10 saham yang diborong asing ini bisa menjadi referensi awal dalam menyusun strategi investasi jangka menengah maupun panjang.
