agroplus.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang kurang menggembirakan pada penutupan perdagangan Rabu (30/9). Pasar modal Indonesia harus rela menutup hari di zona merah setelah terkoreksi sebesar 0,83 persen ke level 6.071,14. Kondisi ini dipicu oleh aksi jual bersih oleh investor asing yang mencapai angka fantastis, yakni Rp1,56 triliun di pasar reguler dan total Rp1,61 triliun di seluruh pasar.
Meskipun secara keseluruhan melemah, terdapat beberapa saham yang justru menunjukkan taringnya dengan bergerak positif. Saham UNTR mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 7,55 persen, disusul oleh EMAS yang naik 2,32 persen, serta MORA yang menguat tipis 1,99 persen. Sebaliknya, sektor teknologi menjadi beban terberat dengan penurunan mencapai 2,76 persen, sementara saham GOTO mengalami koreksi tajam hingga 13,51 persen.

Di tengah fluktuasi ini, para pelaku pasar mulai melirik beberapa aksi korporasi strategis yang berpotensi menjadi katalis positif bagi emiten tertentu. Salah satunya adalah PT Mitra Investindo Tbk (MITI) yang tengah memperkuat posisinya di sektor hilirisasi. Melalui kerja sama dengan PT CNEC Engineering Indonesia (CNEC INA), anak usaha dari perusahaan milik negara China, MITI berencana mengembangkan tiga konsesi tambang pasir silika. Langkah ini sangat strategis mengingat potensi nilai tambah pengolahan pasir silika menjadi wafer silikon untuk panel surya bisa melonjak hingga 1.300 kali lipat.
Selain MITI, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga tengah menjadi sorotan. Meski ada regulasi baru dari Kementerian ESDM mengenai pembatasan penggunaan anak usaha dalam jasa pertambangan, DEWA optimis tidak akan terdampak secara material. Sebagai kontraktor independen bagi raksasa seperti Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin Indonesia, DEWA memiliki peluang besar untuk mengamankan kontrak baru berkat kapasitas operasional dan dukungan teknis yang mumpuni.
Kabar menggembirakan juga datang dari sektor perkebunan melalui PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Perusahaan ini baru saja mengumumkan pembagian dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp233 per saham. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2018, didorong oleh pertumbuhan laba bersih yang melesat 56,51 persen secara tahunan pada semester I 2026. Bagi investor pemburu dividen, tanggal cum date untuk mendapatkan hak ini jatuh pada 8 Oktober 2026.
Menjelang penerapan aturan short selling pada 1 Oktober, investor disarankan untuk tetap waspada dan jeli melihat peluang di tengah volatilitas pasar. Pergerakan indeks global, termasuk bursa Amerika Serikat yang bervariasi, juga akan terus menjadi acuan penting dalam menentukan arah gerak IHSG ke depan.
Disclaimer: Analisis dan informasi dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan atau perintah untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.
