agroplus.co.id – Dinamika ekonomi global saat ini tengah berada dalam fase yang penuh dengan ketidakpastian. Gejolak geopolitik yang tak kunjung mereda, terutama di kawasan Timur Tengah, telah menciptakan efek domino yang mengancam stabilitas ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia. Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa tantangan ini menjadi ujian berat bagi bank sentral di seluruh dunia dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi domestik.
Ketegangan di Timur Tengah bukan sekadar isu politik, melainkan telah merambah ke sektor ekonomi riil melalui gangguan rantai pasok global. Hal ini memicu kenaikan inflasi di berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Serikat. Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya imbal hasil (yield) US Treasury serta penguatan indeks dolar AS yang sangat dominan. Fenomena ini menciptakan tekanan besar bagi mata uang negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Rupiah yang mengalami tekanan pelemahan akibat aliran modal asing yang keluar (capital outflow).

Menanggapi situasi "higher for longer" atau kondisi suku bunga tinggi yang bertahan lama di Amerika Serikat, Destry menjelaskan bahwa BI telah mengambil langkah-langkah proaktif. Meskipun pasar keuangan global mengalami volatilitas tinggi, BI tetap optimis karena melihat fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang sangat solid. Pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap tangguh serta tingkat inflasi yang terkendali dalam rentang target BI menjadi fondasi utama dalam menghadapi guncangan eksternal.
Untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia memastikan akan selalu hadir di pasar. BI melakukan intervensi secara cepat dan terukur, baik melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Langkah ini diambil untuk memastikan likuiditas tetap terjaga dan volatilitas nilai tukar tidak melampaui batas yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan.
Terkait kebijakan suku bunga, Destry juga memberikan klarifikasi mengenai langkah BI yang tidak menaikkan suku bunga acuan saat The Fed melakukan penyesuaian pada September 2026. Menurutnya, BI telah melakukan langkah antisipasi melalui pendekatan looking forward. Artinya, BI sudah memitigasi risiko tersebut melalui kebijakan di bulan-bulan sebelumnya, sehingga tidak perlu melakukan tindakan reaktif yang drastis.
Selain intervensi pasar, BI juga berupaya menarik kembali aliran modal masuk (capital inflow) dengan memberikan insentif biaya hedging (lindung nilai). Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor asing untuk menempatkan dana mereka di pasar keuangan Indonesia. Melalui bauran kebijakan yang komprehensif—mulai dari menjaga stabilitas nilai tukar hingga mendorong pertumbuhan ekonomi—Bank Indonesia berkomitmen untuk tetap navigasi di tengah badai ekonomi global yang penuh tantangan.
