agroplus.co.id – Emiten yang bergerak di sektor perhotelan mewah, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), tengah menyiapkan langkah ekspansi besar-besaran. Perusahaan ini berencana menggelar aksi korporasi berupa penambahan modal melalui mekanisme Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II atau rights issue dengan nilai fantastis mencapai Rp1,54 triliun.
Dalam rencana ambisius ini, BUVA akan menawarkan sebanyak 6.154.263.660 saham baru. Setiap saham dibanderol dengan harga pelaksanaan Rp250 per lembar. Melalui skema ini, perseroan menargetkan perolehan dana segar sekitar Rp1,53 triliun untuk memperkuat struktur permodalan dan mendanai berbagai proyek strategis di masa depan.

Menariknya, dalam aksi korporasi ini, Hapsoro telah menyatakan kesiapannya untuk bertindak sebagai pembeli siaga. Peran pembeli siaga ini sangat krusial, karena mereka akan menampung sisa saham yang tidak diambil oleh pemegang saham lama, sehingga memastikan target perolehan dana dari rights issue ini dapat tercapai secara maksimal.
Rencana Penggunaan Dana: Dari Renovasi hingga Ekspansi
Dana jumbo yang dihimparkan dari hasil rights issue ini tidak akan dibiarkan mengendap. Manajemen BUVA telah menyusun rencana penggunaan dana yang sangat spesifik untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Sebagian besar dana, yakni sekitar Rp426,34 miliar, akan dialokasikan untuk penyertaan modal di PT Bukit Bali Permai (BBP). Dari dana tersebut, Rp199,26 miliar akan digunakan BBP untuk mengambil alih saham PT Royal Uluwatu Residence (RUR), sementara Rp227,08 miliar sisanya akan digunakan untuk pengembangan kawasan West Resort di Uluwatu, Bali, yang ditargetkan rampung pada akhir 2029.
Selain ekspansi properti, BUVA juga fokus pada penguatan neraca keuangan. Sebanyak Rp417,8 miliar akan digunakan untuk melakukan pelunasan dipercepat atas seluruh pokok utang kepada Bank Mandiri. Langkah ini dinilai strategis untuk mengurangi beban bunga di masa mendatang.
Tak hanya itu, perseroan juga mengalokasikan Rp150 miliar untuk renovasi total Alila Ubud, Rp150 miliar untuk pengembangan kawasan wisata terpadu Lagoi di Bintan melalui PT Bukit Lagoi Villa (BLV), serta Rp390,34 miliar untuk pembangunan infrastruktur proyek Uluwatu Estate di Bali.
Tantangan Kinerja Keuangan
Meskipun tengah melakukan ekspansi agresif, BUVA menghadapi tantangan pada kinerja keuangan jangka pendeknya. Pada empat bulan pertama tahun 2026, pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp96,32 miliar, mengalami sedikit penurunan sebesar 1,96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan ini dipengaruhi oleh faktor musiman serta situasi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada jumlah kunjungan tamu. Akibatnya, perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp5,66 miliar, berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu yang masih mencatatkan laba signifikan.
Namun, jika melihat performa tahun penuh 2025, BUVA sebenarnya menunjukkan tren positif dengan pendapatan mencapai Rp375,58 miliar dan laba bersih yang melonjak tajam menjadi Rp195,15 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pertumbuhan perusahaan masih sangat besar jika proyek-proyek baru yang didanai melalui rights issue ini dapat berjalan sesuai rencana.
