agroplus.co.id – Raksasa konstruksi milik negara, PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), tengah melakukan langkah besar dalam merombak struktur keuangannya. Menjelang rencana merger dengan PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), emiten BUMN karya ini memutuskan untuk melepas seluruh kepemilikan sahamnya di PT Jasamarga Jogja Solo (JMJ). Langkah divestasi ini diproyeksikan akan mendatangkan dana segar yang sangat signifikan bagi perusahaan.
Berdasarkan informasi resmi yang dirilis pada awal Oktober 2026, Adhi Karya akan menjual 1.714.808 lembar saham atau setara dengan 47,18% kepemilikan di JMJ kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI. Nilai transaksi yang disepakati dalam kesepakatan ini mencapai angka fantastis, yakni Rp1,76 triliun. Angka tersebut bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan nilai pasar yang tercatat sebesar Rp1,73 triliun per Juni 2026.

Manajemen Adhi Karya mengungkapkan bahwa keputusan ini bukan tanpa alasan. Divestasi ini merupakan bagian dari strategi asset recycling atau optimalisasi investasi. Dengan melepas aset non-inti, perusahaan bertujuan untuk memperoleh nilai tambah yang dapat segera digunakan untuk memperkuat fondasi keuangan. Langkah ini juga sejalan dengan instruksi strategis dari PT Danantara Asset Management (DAM) yang ingin menyehatkan kondisi keuangan BUMN sektor konstruksi agar dapat kembali fokus pada bisnis utama mereka.
Dana jumbo hasil penjualan saham ini nantinya akan dialokasikan untuk beberapa agenda krusial. Prioritas utama adalah untuk membayar utang berbunga guna meringankan beban finansial perusahaan serta memperbaiki struktur permodalan. Selain itu, dana tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan mendukung berbagai kebutuhan operasional lainnya sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan.
Keputusan melepas JMJ juga dipengaruhi oleh hasil kajian internal terkait kinerja keuangan entitas tersebut. Sebagai badan usaha yang mengelola konsesi Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulon Progo, JMJ diprediksi masih akan mencatatkan kerugian pada fase awal pengoperasiannya. Hal ini disebabkan oleh pendapatan tol yang belum maksimal serta adanya beban bunga pembiayaan yang cukup besar. Dengan keluar dari kepemilikan JMJ, Adhi Karya berharap dapat memitigasi risiko kerugian yang dapat menggerus laba bersih perseroan di masa depan.
Saat ini, proses pengalihan saham tersebut masih menunggu persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Adhi Karya. Perusahaan menargetkan seluruh rangkaian transaksi ini dapat tuntas paling lambat pada akhir November 2026. Rencananya, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) akan digelar pada 13 November 2026 untuk meresmikan langkah strategis ini sekaligus membahas penggunaan sisa dana penawaran umum terbatas yang akan dialihkan menjadi modal kerja.
