agroplus.co.id – Setelah sempat mengalami tekanan hebat selama lima hari perdagangan berturut-turut, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akhirnya menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah yang signifikan. Setelah sempat tertahan di level harga rendah, saham raksasa teknologi ini berhasil melesat kembali ke level Rp30 per lembar saham pada perdagangan terbaru.
Fenomena ini terjadi setelah GOTO sempat berada dalam tekanan jual yang cukup intens, bahkan sempat menyentuh level Rp27 pada sesi pertama perdagangan. Lonjakan harga ini terjadi di tengah aktivitas pasar yang sangat masif. Tercatat, nilai transaksi saham GOTO melonjak tajam hingga menembus angka Rp2,23 triliun dengan volume perdagangan mencapai lebih dari 82 miliar saham. Angka ini menandakan bahwa minat investor terhadap saham GOTO kembali membara setelah periode penurunan yang panjang.

Meskipun harga saham sempat mendekati batas minimum, antusiasme pelaku pasar justru meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak investor yang mulai melihat level harga saat ini sebagai peluang emas untuk masuk, terutama setelah melihat perkembangan fundamental perusahaan yang mulai menunjukkan tren positif.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta, memberikan pandangan optimis terkait kondisi ini. Menurutnya, harga saham GOTO saat ini sudah berada pada level valuasi yang sangat menarik atau bahkan tergolong murah. Ia menyoroti bahwa saat ini saham GOTO diperdagangkan di bawah nilai buku atau price-to-book value (PBV), sebuah kondisi yang jarang terjadi pada perusahaan yang sudah berhasil mencetak laba.
"Dengan kondisi perusahaan yang sudah mampu membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, harga saham saat ini membuat GOTO menjadi saham yang undervalued. Pasar perlu memperhatikan apakah diskon harga yang besar ini masih sejalan dengan kekuatan fundamental bisnisnya," ungkap Kafi Ananta.
Kinerja keuangan GOTO memang menunjukkan perbaikan yang menjanjikan. Pada kuartal II 2026, perusahaan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp252 miliar, melonjak sekitar 47% dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar Rp171 miliar. Selain itu, pendapatan bersih perusahaan tumbuh 31% secara tahunan mencapai Rp5,7 triliun. Pencapaian EBITDA Grup yang disesuaikan pun berhasil melampaui angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya, yang memperkuat posisi keuangan perusahaan menuju target tahunan.
Selain faktor kinerja, faktor pendukung lainnya adalah rencana aksi korporasi berupa pembelian kembali saham atau buyback. GOTO telah memiliki persetujuan untuk melakukan buyback dengan nilai maksimal hingga Rp3,5 triliun untuk periode Juni 2026 hingga Juni 2027. Langkah ini dianggap sebagai sinyal kuat dari manajemen bahwa mereka percaya pada nilai intrinsik perusahaan di masa depan.
Kafi menambahkan bahwa meredanya tekanan jual yang dibarengi dengan tingginya volume transaksi adalah sinyal positif. Meskipun pergerakan harga ke depan masih perlu dipantau secara cermat, minat beli yang besar di level harga rendah menunjukkan adanya upaya penyerapan saham yang masif oleh para investor.
